
Aku menatap aplikasi yang terbuka di depanku, rasa lelah membuat aku malas untuk mengerjakan tugas yang biasanya menjadi obat dari segala rasa sesak yang menghimpit dadaku.
Beberapa pekan ini hatiku tidak lagi tenang mengerjakan soal – soal materi yang aku ajar. Rasanya aku mengalah saja dengan keadaan.
Sudah 2 tahun lalu aku dipercayakan menjadi Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) Bagian Kurikulum. Belajar sudah tentu pasti. Teori maupun praktik aku pelajari dari pendahuluku. Berharap dengan cacatan selama dia menjabat akan aku upgrade menjadi lebih baik.
Virus memang hal yang membahayakan, tapi aku lebih suka menyebutnya bahaya latin saja. Bagaimana tidak? Ada virus di sekolahku yang dulu hanya seperti jamur tumbuh satu tapi karena kurangnya control sekarang bertambah jumlahnya.
“Ingat guru adalah contoh nyata yang akan diingat anak didik kita. Salah melangkah jadilah mereka pengkritik pertama buat mereka.” Itu kata bijak yang aku lihat di salah satu aplikasi yang tersedia.
Dan akhirnya harus aku akui aplikasi itu menyajikan kontek yang membuat perut terasa sakit karena tidak bisa menahan tawa melihatnya tapi juga ada pendidikan yang kadang lewat tidak kita perhatikan. Bijak adalah kata yang tepat untuk apa yang disajikan, kadang mudah untuk diucapkan tapi sulit untuk diaplikasikan.
Saat ini berseliwiran kata bijak serta kata motivasi terkhusus untuk guru, tapi apa yang terjadi semakin banyak motovasi yang disajikan hanya menjadi tontonan sementara atau asal lewat saja kami para guru seakan sudah terkena virus kalau terlalu keras mendidik akan mendekam di balik jeruji.
Pagi ini aku harus menahan hati, ketika melihat CCTV di ruangan Kurikulum. Bagaimana tidak, beberapa kelas kosong, mereka anak didikku seakan lupa ada mata dewa yang mengawasi mereka.
Mereka, anak – anak yang baru gede istilahnya tapi kelakuan seperti anak balita dengan tidak tahu aturan duduk di atas meja. Menyusun beberapa meja yang dijadikan alas untuk tidur dengan santai berbaring terlentang salah satu kakinya di atas lutut kaki lainya sedangkan tangannya sibuk dengan android. Melihat keasyikannya pasti lagi memainkan game online. Hanya 2 siswa yang aku lihat duduk rapi dengan tangan membalik buku. Sesekali aku melihat mereka yang lagi membaca melihat temannya karena aksi memekik kesal mungkin kalah dalam game online.
Sedangkan kelas di sebelahnya kosong, aku melihat Daftar Pelajaran tidak mungkin saat ini kelas ini kosong. Empat kelas yang berada di bagian bawah kelasnya tidak ada gurunya. Helaan napas keras terkeluar dari hidungku. Aku meraih androidku bergegas keluar dari ruangannku. Seharusnya aku menyelesaikan tugas sebagai guru mata pelajaran, membuat soal formatif disela – sela waktu kosong mengajar serta tidak ada tugas sebagai kurikulum.
Bergegas aku menuju meja piket, ternyata guru piket juga tidak ada akhirnya aku memutuskan menuju kelas yang terletak paling bawah di sekolahku.
Semakin dekat dengan kelas di bawah aku mendengarkan suara – suara kencang yang tidak wajar, berlari kecil aku menghampiri suara keributan itu.
Pak Anton bersama Ibu Aina terlihat lagi melerai kumpulan mereka peserta didikku.
“Ada apa Ibu Aina?” ucapku lantang.
“Maaf, Bu mereka berkelahi,.” ucap Pak Anton.
Aku menatap mereka, peserta didikku yang membeku melihat kehadiranku.
“Bu Intan kemana?” tanyaku lagi
“Tidak ada kabar, Bu. Kami sudah menelepon Bu Intan tapi tidak dijawab,” terang Bu Aina.
Sesak napasku. Mereka teman sejawatku yang seharusnya menjadi teladan anak didikku tidak ada di kelas.
“Ada masalah apa? Bu Aina bawa mereka yang bermasalah ke ruangan saya. Pak Anton bantu sekolah untuk mencari informasi. Saya melihat di CCTV ada 3 kelas lagi yang gurunya kosong. Pastikan anak – anak tetap memanfaatkan waktu dengan benar. Cari informasi kemana gurunya. Terima kasih Pak Anton. Bu Aina, kita ke rung kurikulum,” ucapku tegas.
Ada 6 anak yang bermasalah, hanya karena mereka saling ejek dan akhirnya menjadi perkelahian. Informasi dari Bu Aina ketika kami sampai di ruangan kurikulum.
“Siapa yang memulainya? Ada yang mau menceritakannya kepada Ibu.” Ucapku sambil menatap mereka satu persatu.
Waktu berlalu, tidak satupun dari mereka berani membuka mulut, seakan ada gembok yang mengunci mulut mereka peserta didikku.
“Jepri, ibu mau mendengar cerita kamu setelah itu Hilman, Andi, iwan, Samsul dan yang terakhir Bowo. Sampai hitungan ke 10 jepri tidak mau bercerita semuanya akan Ibu minta membuat prosa sebanyak 10.000 kata” Ucapku tegas.
Aku mulai menghitung sampai hitungan ke 8 aku melihat Jepri membuka mulutnya.
“Bowo yang mulai duluan Bu, tadinya kami bermain gunting kertas siapa yang kalah harus menyebutkan 10 nama fauna dan flora sesuai dengan permintaan yang menang.
Ketika Bowo kalah, Bowo menyebutkan nama bapak saya ketika saya meminta Bowo menyebutkan nama binatang dengan huruf “R” Bu.
Aku menatap Bowo seketika, Bowo langsung menundukkan kepalanya.
“Apa benar yang diceritkan Jefri, Bowo,” tanyaku tegas.
Sekali lagi waktu berlalu Bowo malah menundukkan kepalanya tidak menjawab pertanyaanku.
“Bowo, jawab Ibu.” Suaraku naik satu oktaf.
Bowo salah satu peserta didik yang sering keluar masuk ruang BK karena keusilannya. Sebenarnya aku kasihan dengan Bowo. Bergelimang harta tapi kurang perhatian orangtuanya. Bapaknya kapten kapal yang hanya naik ke darat 2 kali selama setahun, sementara Ibunya pejabat di kabupaten.
Bowo melakukan keusilan hanya ingin menarik perhatian saja. (Bersambung)


