
“Nabil, kasih teleponnya dengan Ibu, Ayah ingin bicara dengan Ibu.” Terdengar suara Bang Rasyid dari seberang sana.
“Bicara dengan anak – anak saja,” selaku mencuri percakapan Nabil dengan ayahnya.
Aku tersenyum.
“Sekarang giliran Nabila yang bicara dengan Ayah, Abang sudah ceritanya dengan Ayah,” ucapku menatap Nabil.
“Nabil sudah bicaranya dengan Ayah. Mau main lagi sama Atok dan lainnya,” ucap Nabil sambil menyerahkan HP Mak kepada Nabila.
“Ayah di rumah mana? Disini ramai, Nabila senang, Ayah. Semua sayang sama Nabila,” celoteh Nabila manja.
Nabila paling kecil diantara semua ya, Ayah, Emak serta adik – adikku tidak ada yang membedakan mereka anak sambungku.
Si cantik Nabila selalu menjadi putri buat mereka, maklum semua keponakanku laki – laki.
“Ayah, Kak Naura menginap di rumah Kakek Nenek. Hari lebaran ke dua Ayah Kak Naura pulang.” Suara Bang Rasyid dari seberang sana.
“Kenapa pulangnya cepat, cuti ayah masih lama. Kami juga belum masuk sekolah. Ayah di rumah Kakek Nenek aja. Kalau Ayah pulang, Ibu. Nabila, Abang Nabil harus pulang ke rumah kita. Nabila masih mau di rumah Atok Nenek. Di sini ramai. Nabila senang, Ayah.” Rengek Nabila kepada Ayahnya.
Aku tersenyum miris. Bang Rasyid lebih memilih menginap di rumah mantan mertua daripada mertuanya, bantinku sedih.
Apalagi perkataan Nabila yang membuatku bertambah sedih. Anak sekecil Nabila masih bisa berpikiran waras daripada Bang Rasyid. Tidakkah Bang Rasyid memikirkan hatiku? Rasanya tidak. Sselama ini kami hanya terikat dengan pernikahan yang saling membutuhkan saja.
Bang Rasyid butuh pengasuh anak serta rumahnya, sementara aku berusaha menjadi isteri yang baik untuk menyenangkan kedua orangtuaku, helaan napasku terasa berat.
“Adek sudah cerita dengan Ayah, kasih teleponya dengan Ibu, Nak,” ucap Bang Rasyid
“Nenek ada telepon,” teriak Nabila
Aku terselamatkanya dengan telepon yang masuk di HP Mak. Aku menekan tombol mengakhiri panggilan dengan Bang Rasyid, berpura – pura tersenyum walaupun hatiku sakit.
***
Lelah, tapi aku tidak mau membuat luka di hati Nabil Nabila. Setelah makan siang di rumah Abah Mak aku pulang ke rumah Bang Rasyid.
Membuka pintu dengan mengucapkan salam, melenggang masuk ke ruang tengah rumah, melihat sepintas foto pernikahan Bang Rasyid bersama almarhum istrinya masih menominasi dinding ruang tengah. Foto pernikahan kami hanya ada di kamar tidur, itupun karena aku yang memintanya dengan ukuran 5 R di figura terletak di nakas samping tempat tidur.
“ Biar anak – anak ingat dengan Ibunya.” Itu alasan Bang Rasyid belum menyimpan foto alharhum istirinya, aku tidak keberatan kala itu, tapi saat ini hatiku hancur melihat kemesraan foto itu.
Aku menghapus sudut mataku, tersenyum miris berlalu menuju kamar anak sambungku untuk meletakkan barang bawaan mereka ketika menginap di rumah Abah Mak.
“Nabil, Nabila tidur siang dulu nanti setengah lima kita ke pelabuhan jemput Ayah,” teriakku kepada mereka anak sambungku.
Suara larinya Nabil Nabila serta celoteh mereka ingin berebut siapa yang sampai duluan membuatku terhibur. Pasti Seperti biasanya Bang Rasyid lebih memilih naik kapa siang atas permintaan Naura sudah lebih lama bersama Kakek Nenek serta Tante kesayangannya.
Setelah memastikan kedua anak sambungku tertidur aku melangkahkan kaki menuju kamar kami.
“Asalamualaikum.” Bergema suara dari ruang tamu.
Suara panel pintu dibuka, membuatku bertanya – tanya siapa yang datang langsung membuka pintu. Bergegas aku menuju ruang tamu.
Tatapan kami bertabrakan, aku tidak percaya dengan penglihatanku, Abang Rasyid dan Naura. Naura berlari menabrak badanku dan menagis, ada apa.
“Ada apa bukanya Naura sudah bersenang – senang di Pekanbaru.” Ucapku sambil mengusap kepala Naura.
Seharusnya Naura senang aku tidak ikut ke rumah Kakek Neneknya. Naura terus menangis, entahlah tidak ada lagi kalimat yang keluar dari mulutku hanya mengelus kepalanya yang masih setia di depan badannya.
Hampir setengah jam Naura menangis dengan posisi berdiri, akhirnya aku menyerah. Kakiku terasa pegal berdiri dengan menampung berat badan Naura.
Bang Rasyid malah santai duduk di sofa ruang tamu memandangi kami.
“Bang, bawa Naura untuk istirahat di kamarnya, Naura sudah makan siang. Aku masak nasi dulu buat Abang dan Naura. Masih ada rendang untuk lauk makan siang jika Abang, Naura mau makan,” ucapku kepada Bang Rasyid.
“Maafkan Naura Bu, Naura sudah jahat dengan Ibu,” ucap Naura di sela tangisnya.
Keningku berkerut mendengar ucapan Naura, apa yang terjadi, batinku gelisah.
“Ya sudah, Ibu sudah memaafkan Naura. Naura ganti baju dulu sama Ayah. Sudah makan?” Bujukku.
Naura menggelengkan kepalanya.
“Ibu masak nasi dulu. Setelah masak nanti Ibu panggil Naura untuk makan,” ucapku sambil melempar senyum kepada Naura.
“Naura mau rendang buatan Ibu, boleh?”
“Tentu saja,” ucapku.
“Bang,” ucapku. Bang Rasyid mengerti keinginaku. Berdiri dari duduknya. Melangkah mendekati aku dan Naura.
Bang Rasyid mengulurkan tangannya. Aku menatap sejenak sebelum menciumnya takzim tanda bakti kepada suami dan meninggalkan Bang Rasyid dan Naura untuk menanak nasi.
***
Aku meraih tangan Bang Rasyid untuk dicium takzim. Spontan aku kaget ketika Bang Rasyid mencium keningku. Tidak biasanya. Begitu juga dengan sholat magrib tadi. Biasanya Bang Rasyid akan sholat magrib dan Isya di masjid dekat rumah kami jika berada di rumah tapi hari ini kami sholat berjamah magrib isya di rumah. Bang Rasyid jadi imannya. Setelah salat aku, anak – anak berebut untuk mencium tangan Bang Rasyid.
“Tidur cepat besok kita jalan – jalan ke pantai.” Spontan aku memandang Bang Rasyid.
“Kita ke pantai Yah, hore Naura, Nabil, Nabila sayang Ayah.” Koor anak – anak.
Dadaku turun naik menghela napas keras, terantuk dimana kepala Bang Rasyid. Aneh tingkahnya, bantinku.
“Bu, bawa rendang dan buatkan telor dadar gemuk,” ucap Nabila sambil tersenyum memandangku imut.
“Ibu buatkan untuk putri Ibu tersayang,” ucapku sambil memeluk Nabila.
“Hik hik hik” kami spontan memandang Naura
Suara isak dari bibir Naura, aku memandang Bang Rasyid. Bukan tidak ingin menenangkan Naura selama ini Nuara manja kepada Bang Rasyid tidak kepadaku.
Bang Rasyid menarik Nuara dalam pelukkannya mengusap lembut kepala Naura.
“Ada apa? Naura sakit?” ucap Bang Rasyid.
“Ibu tidak sayang Naura.” Netraku membulat mendengar ucapan Naura.
Bingung, tentu saja Aku bingung selama ini Naura yang tidak mau aku sanyangi tapi hari ini aku seperti melihat Naura yang berbeda, ada apa selama mereka merayakan lebaran di rumah Kakek Neneknya.
Aku meriah Naura dalam pelukkanku memberikan efek nyaman untuk Naura.
“Ibu Sayang Naura, Naura mau telur dadar atau mau yang lain.” Ucapku lembut.
“Naura mau disayang Ibu seperti Nabila Nabil.” Ucap Nuara dalam isaknya.
“Ibu sayang Naura sama seperti Ibu sayang Nabil Nabila.” Ucapku menyakinkan Naura.
“Boleh Nuara minta telur dadar gemuk seperti Nabila dan makan rendang buatan Ibu.” Ucap Naura malu.
“Ok, ibu masak telur dadar gemuk setelah itu kita akan makan sama – saman.” Ucapku sambil tersenyum menatap Nuara.
***
Saat ini semua anak – anak sudah hanyut dalam mimpi mereka, jam sudah menunjukkan pukul 21.00 malam. Aku Bersiap untuk melangkah kealam mimpi setelah drama tadi bersama Nuara. Banyak pertanyaanku dalam benak tapi aku lebih memilih untuk tidak mencari jawabanannya.
“Cahaya, sudah tidur? Abang mau bicara.” Ucap Bang Rasyid tepat masuk ke kamar kami.
Aku pikir Bang Rasyid akan begadang, ada pertandingan bola di TV.
Helaan napasku berat, membangunkan badanku dan duduk di dasbor tempat tidur, menatap Bang Rasyid yang sekarang duduk diujung tempat tidur tepat di kakiku.
“Jika tidak penting lebih baik nanti saja bicaranya Bang, Aya lelah mau istirahat.“ Ucapku lemah.
“Maaf selama ini Abang salah.” Ucap Bang Rasyid sambil memandangku sendu.
“Kita sudah saling memanfatkan lewat telepon di pagi raya kemaren. Sekarang boleh Aya lanjutkan tidur” Ucapku sebelum Bang Rasyid melanjutkan kalimatnya.
Helaan napas berat terdengar dari mulut Bang Rasyid.
“Untuk Abang ini masalah penting, abang tidak mau menunda membicarakannya dengan Aya.” Ucap Bang Rasyid sendu.
“Abang diminta nikah dengan mantan ipar Abang? silakan tapi pulangkan Aya kerumah orang tua Aya. Abang meminang dengan cara baik – baik, pulangkan Aya juga baik – baik.” Ucapku ketus.
“Apa yang Aya merepek ni, siapa yang mau nikah dengan Irma, Irma sudah menikah dengan tunangannya. Ingat waktu Abang pulang sebelum ramadhan, itu Abang menghadiri pernikahan Irma. Abang mau membicarakan Naura yang kecewa dengan pernikahan Irma, Abang maupun Irma serta Kakek Neneknya tidak mau memberitahukan Naura. Helaan napas berat terdengar dari Bang Rasyid sebelum kita menikah Abang diminta untuk menikah dengan Irma tapi abang menolak, melihat kedekatan Naura dan Aya, Abang fikir Naura sayang dengan Aya, karena itu Abang memilih Aya tapi siapa sangka Irma dan Mantan Mak Mertua Abang menghasut Naura untuk membeci Aya dan terus membujuk Abang untuk tetap menikah dengan Irma dan menceraikan Aya. Berjalannya waktu mungkin salah Abang yang tidak pernah mengucapkan Abang sayang Aya bukan karena Naura atau Nabil Nabila yang butuh seorang Ibu tapi Abang butuh pendamping yang mengerti keadaan Abang yang bukan sendiri lagi dan menyayang anak – anak Abang.
“Abang merasa bersalah dengan situasi kita akhir – akhir ini, pulang kemaren sebenarnya Abang mau kita menginap di hotel. Tidak dirumah tua, abang ingin kita benar – benar memulai semuanya dari awal dengan menjelaskan kepada Naura bahwa yang Abang sayang itu Aya bukan tantenya. Puasalah yang membuat abang tidak mau berdebat ketika Aya kekeh untuk kembali lagi ke Karimun. Ingatkan setiap saat Abang menelpon Aya untuk menjelaskan tapi Aya tidak menjawab telepon Abang bahkan chat Abang tidak ada satupun Aya baca. Ketika kami tiba di rumah Kakek Nenek Nuara, Irma tidak ada. Naura terus bertanya, kami memberikan alasan Irma lagi keluar kota ada pekerjaan. Pagi lebaran Irma datang dengan suaminya, barulah kami bercerita kalau Irma sudah menikah. Dan disitulah Irma meminta maaf kalau selama ini dirinya memaksa masuk dalam kehidupan Abang melalui Nuara dengan menceritakan kalau Ibu punya adik Nuara, Nabil, Nabila pasti disisihkan. Sejak itu Naura mulai bertingkah dan menjuah dari Aya. Nuara tidak berhenti menangis ketika Irma mengatakan selama ini dirinya mempengaruhi Nuara untuk membenci Aya. Hari kedua sebenarnya kami sudah mau pulang atas permintaan Nuara tapi tidak ada tranfortasi yang bisa mengantar kami ke Karimun. Sepanjang perjalanan Nuara cemas dan takut jika Aya tidak akan memaafkan dirinya dan tidak sayang lagi dengannya. Tidak mungkin masalah ini Abang ceritakan melalui telepon bukan?” Ucap Bang Rasyid menghela napas berat.
“Abang salah selama ini tidak pernah sekalipun mengucapkan Abang sayang dan cinta Aya. Aya bukan penganti apalagi hanya untuk menjadi penjaga anak – anak Abang. Abang selalu berdoa dalam sujud Abang kita punya anak dari rahim Aya. Abang sedih sewaktu membaca curahan Aya mengatakan Abang tidak menginginkan anak dari rahim Aya.” Ucap lemah Bang Rasyid.
Netra membulat tidak percaya dengan perkataan Bang Rasyid apalagi mengenai bagian curahatanku itu.
Perlahan Bang Rasyid menghampiriku, meraihku dalam pelukkanya mengusap kepalaku yang berada di dadanya.
Perlahan tapi pasti isakku mulai terdengar, aku merasa bersalah telah Suudzon dengan Bang Rasyid.
“Maaf.” Cicitku memeluk Bang Rasyid.
“Jangan pernah berfikir abang memanfaatkan Aya untuk kepentingan anak – anak. Aya mungkin bukan cinta pertama Abang tapi Abang pastikan Aya cinta terakhir Abang sampai ke Jannah. “ ucap Bang Rasyid lembut.***


