
“Asalamualaikum.” Suara Bang Zain.
Aku menatap pintu ruang Majelis Guru. Bang Zain melempar senyumnya kepadaku. Kesalku naik ke ubun – ubun. Terpaksa aku memberikan senyum palsu. Lalu melangkah ke arah Bang Zain.
Untung saja hanya ada beberapa orang guru yang tidak ada jam mengajar di Majelis Guru. Aku tidak mau masalah rumah tanggaku menjadi gunjingan publik.
“Terima kasih. Sana pergi kerja,” usirku halus kepada Bang Zain setelah meraih tentengan di tangannya.
Aku tidak memberikan kesempatan kepada Bang Zain untuk berbicara. Helaan napas berat sampai ke telingaku. Aku sudah sering menghela napas berat atas kelakuan Bang Zain. Bukannya ingin balas dendam. Aku hanya ingin dihargai oleh keluarga Bang Zain.
***
Dari kejauhan aku melihat Bang Zain berdiri di teras rumah kami. Bberdiri dengan tangan dilipat di dada. Jika tubuhku tidak lelah aku ingin rasa berkeliling Costal Area untuk untuk mengisi waktu. Tapi aku pulang saja. Dengan berat hati aku masuk ke halaman rumah, langsung menuju garasi.
Pintu penghubung garasi dengan rumah terbuka. Sosok Bang Zain berdiri tegap di tengah pintu. Dengan malas aku meraih tangan Bang Zain untuk baktiku sebagai istri. Mencium tangannya.
Bang Zain masih berdiri tegap di tengah pintu. Mau tidak mau aku mengangkat mukaku menatap wajahnya yang melempar senyum kepadaku. Helaan napas berat lagi-lagi kurasakan. Selalu seperti ini. Tidak ada kata maaf. Hanya senyum yang dulu mungkin meluluhkan hatiku tapi saat ini sungguh itu seakan melilit tubuhku. Sakit.
“Bang, Ais lelah. Izin, minggir. Jangan menghalangi jalan Ais,” ucapku dengan suara lelah.
“Ais, kita perlu bicara. Jangan diamkan Abang, Ais.” Bang Zain seperti merayu.
“Apa yang perlu kita bicarakan? Rasanya Ais sudah tahu dimana tempat Ais di kehidupan Abang. Mulai sekarang kita urus diri kita masing – masing. Itu, kan yang Abang inginkan? Ais hanya mengikuti kemauan Abang,” ucapku ketus.
Mendorong tubuh Bang Zain dan aku berlalu melewatinya. Jiwa dan ragaku terlalu lelah untuk berdebat dengan Bang Zain saat ini.
Langkahku berat. Selama 2 tahun ini aku selalu mengalah, berharap Bang Zain akan berubah, tapi nyatanya tidak.
“Kakak Zain menikah setahun sudah ada anak. Istri kau belum juga berisi Zain. Bunda sudah cakap lihat keturunan kalau nak pilih isteri. Tapi kau degil, Zain,” suara mertuaku jelas kudengar ketika aku dan Bang Zain rewang untuk persiapan keberangkatan umrohnya. Entah untuk keberapa kalinya masalah kehamilan muncul tahun ini.
Bang Zain tidak bergerak dari tempatnya berdiri. Akhirnya aku menyampingkan diriku untuk dapat masuk ke dalam rumah. Berjalan tergesa untuk sampai di kamar untuk mengambil beberapa barangku untuk dipindahkan ke kamar tamu. Sendiri, ya sendiri itu yang aku butuhkan saat ini.
Langkahku terhenti ketika tanganku ditarik paksa Bang Zain. Kami saling tatap. Tidak ada kata yang terucap. Selalunya aku akan menangis tapi saat ini hatiku seakan membeku, tidak ada airmata. Netraku menatap tajam Bang Zain. Pegangan yang kencang melemahkan aku melepaskan genggamannya. Berlalu, aku meninggalkan Bang Zain menuju kamar. Sesampainya di kamar aku mengambil beberapa bajuku dan meraih tempat peralatan kecantikanku.
Sejak mengekorku dari luar kamar Bang Zain hanya diam dan memperhatikan apa yang aku kerjakan. Ketika aku mulai berjalan ingin keluar kamar suara Bang Zain terdengar.
“Ais mau kemana?”
“Ais sudah katakan, kita urus diri kita masing – masing. Ais akan pindah ke kamar tamu,” ucapku sambil berjalan.
Secepat kilat Bang Zain mengunci pintu kamar kami mengambil semua barang dalam bawaanku dan melemparkan ke Kasur. Mengheret badanku menuju sofa yang berada di kamar kami.
“Duduk.” Perintah Bang Zain.
“Sudahlah Bang, Ais lelah. Kalau Abang tidak butuh istrirahat biarkan Ais istirahat.” Ucapku lemah.
“Duduk Ais.” Kali ini suara Bang Zain naik satu oktaf.
Dengan lemah aku duduk, aku hanya menghindari perdebatan yang rasanya tidak akan membuat Bang Zain sadar menghabiskan energiku saja mengatakan seribu fakta tapi Bang Zain tetap tidak membelaku dari keluarganya. Dan saat ini aku tidak lagi memperdulikan seperti apa pernikahanku jika pernikahan ini menurut Bang Zain hanya untuk dirinya dan untuk orang lain kami terlihat bahagia maka aku akan memainkan peran itu dengan baik, batinku.
Aku yang memilih Bang Zain maka aku harus konsisten dengan pilihanku sikap baik dan buruknya Bang Zain harus aku terima dengan segala resikonya pasrah.
Aku menghempaskan diriku disofa, diam menanti apa yang Bang Zain katakan.
“Ais Abang salah, Abang harap Ais maklum dengan perlakuan keluarga Abang, pelan – pelan Abang akan merubah mereka Ais. Ais tahu sekeras apa keluarga Abang apalagi Bunda, bunda mau yang terbaik untuk Abang. Ziana memang kelewatan manjanya Abang sudah katakana itu baju yang akan Aisyah pakai. Tapi abang tidak tahu kapan Ziana memakai baju Ais, Abang rasa Ais juga tidak akan memakai pakaian yang sudah dipakai Zianakan? Untuk apa yang dikatakan keluarga Abang, Abang sudah menjelaskan. Tidak mau Ais terlalu terluka Abang minta Ais dibelakang saja bukan meminta Ais pulang tanpa pamit dengan keluarga Abang.” cerita Bang Zain.
Aku tersenyum sinis mendengar cerita panjang lebar Bang Zain, pembelaan untuk keluarganya tapi tidak ada kata maaf yang terucap atas sikapnya yang tidak adil untukku.
“Ya Ais yang bersalah tidak bisa menyusaikan diri dan berada diekspetasi keluarga Abang, maaf Ais tidak bisa menjadi istri yang pengertian, menantu idaman Bunda. Sudah boleh Ais istirahat, Ais butuh istirahat Bang.” Ucapku lelah.
Ekspresi Bang Zain berubah mendengar ucapakan, wajah tidak suka mungkin tapi aku tidak mau menebak isi hati Bang Zain lagi. Aku tidak peduli dengan apa yang dipikirkan Bang Zain.
“Ais bukan maksud Abang begitu.” Ucap Bang Zain cepat.
“Terserah apa yang Abang pikirkan, Ais sudah meminta maaf atau kata maaf Ais tidak cukup Abang tinggal bilang apa yang harus Ais lakukan untuk memuaskan ekspetasi keluarga Abang terhadap Ais. Tapi sekarang biarkan Ais istirahat, kepala Ais pusing. Kasihan pada Ais Ba.”
Gelap itu yang aku rasakan bersamaan aku kehilangan kesadaranku.
***
Aroma obat – obatan menusuk penciumanku. Perlahan aku membuka netraku. Pandangan pertama bukan sosok Bang Zain tapi tiang infus. Aku melihat sekeliling, sendiri.
Hampa hatiku. Sudut netraku berair, cepat aku menghapusnya. Aku tidak mau air bening, itu tertangkap oleh siapapun yang saat ini sedang membuka pintu ruang yang aku tempati saat ini.
“Sudah bangun?” Ternyata Bang Zain yang membuka pintu.
“Maaf, Abang keluar sebentar untuk mencarikan makan buat kita berdua,” ucap Bang Zain.
Kata yang sudah lama tidak aku dengar dari mulut Bang Zain sejak menikah dengannya. Kata maaf sepertinya haram keluar dari mulut Bang Zain sejak kami menikah. Sebesar apapun kesalahan Bang Zain selalu kata pembelaan keluar dari mulutnya untuk pembenaran apa yang dilakukannya.
Aku mengalihkan pandanganku dari sosok Bang Zain yang berjalan menuju ke arahku.
“Maaf, Abang minta maaf. Abang salah. Ais, istri Abang yang sempurna tidak ada istri yang di luar sana yang melebihi Ais, Abang yang tidak tahu diri meminta lebih padahal begitu banyak kekurangan Abang. Abang memanfaat cinta Ais untuk kepentingan Abang. Abang lupa pada janji Abang untuk membahagiakan Ais lahir dan batin. Ais, tolong maafkan Abang. Tidak ada dalam pernikahan suami istri mengurusi kehidpan masing – masing. Kebahagiaan rumah tangga kita untuk kita, bukan untuk orang lain. Maafkan Abang, Ais,” ucap Bang Zain sambil memenggenggam erat tanganku.
Aku merasa kaku mendengar ucapan panjang lebar Bang Zain, seakan Bang Zain membaca kata hatiku.
Deg,
“Dimana HP Ais?” tanyaku ketus.
Semua keluh kesahku aku tulis dalam folder catatan di HP-ku. Beberapa tulisanku mendapatkan honor dari media karena menjadi penulis pada aplikasi membaca di dunia maya.
Tulisanku terinspirasi dari kehidupanku sedari gadis sampai aku menikah.
Abang Zain mengeluarkan HP-ku dari saku jaket yang dikenakannya. Senyumku sinis, menatap sepintas ke wajah Bang Zain dan membuang mukaku dari wajah Bang Zain.
“Jangan jadikan mengintip privasi orang lain, Ais tidak pernah mengotak-atik HP Abang,” ucapku, tetap dengan ketus.
“Ais, untuk itu Abang tidak mau meminta maaf. Abang bersyukur membaca, abang tahu abang salah. Maafkan Abang Ais, tolong maafkan Abang yang egois selama ini. Untuk tidak terjadi apa – apa dengan Ais jika tidak Abang akan menyesal seumur hidup Abang. Mulai sekarang jangan menyembunyikan rasa yang membebani hati Ais. Ceritakan sama Abang. Jangan bersabar dengan Abang. Marahi Abang kalau Abang salah. Ini untuk Kesehatan kandungan Ais. Ais tidak boleh stress. Tidak baik untuk kandangan Ais yang masih muda itu.” Ucap Bang Zain sendu.
Hanya kalimat kandungan yang tercerna dengan baik oleh pendengaranku. Tanganku spontan mengelus perutku. Isak tidak bisa aku tahan. Aku meraung meluapkan rasa yang campur-aduk di dadaku. Aku menepis tangan Bang Zain yang ingin memeluk diriku. Aku membelakangi Bang Zain yang ingin memeluk diriku. Menangis, ingin melepas semua beban yang menghimpitku akhir – akhir ini.
Puas menangis aku berlabuh dalam alam mimpi.
***
Lapar menggerogoti perutku, perlahan aku membuka mata. Sepi. Bang Zain tertidur disamping ranjangku dalam posisi duduk.
Entah berapa lama aku tertidur. Perlahan aku meraih HP-ku yang berada di nakas sampai ranjang. Angka 23 terlihat jelas. Pantas saja aku lapar. Aku melewatkan makan malamku. Aku melirik ke arah meja yang tersedia di kamar rawat inapku. Ada buah dan roti serta satu bungkusan yang aku tidak tahu apa isinya.
Perlahan aku menggerakkan badan. Turun dari ranjang. Untung infusku sudah dilepas. Jika tidak aku akan kesusahan Melangkah pelan menuju sofa yang didepanya ada meja yang menampung makanan dan minuman.
Aku mengambil cake yang tertutup tisu. Terlalu takut untuk membuka bungkusan streofom yang akan membangunkan Bang Zain. Perlahan aku menyantap cake dibantu sebotol aqua.
Aku mengelus perutku yang sudah kenyang, mengintip ke arah Bang Zain yang masih terlelap. Berjalan pelan membuka pintu ruang rawat inapku. Melangkah keluar dan menutupnya kembli. Melangakah menjauhi ruang rawat inapku untuk mencari ruang informasi. Selanjutnya menelepon adikku, Yusuf.
“Asalamualikum, Sup. Maaf, mengganggu malam begini. Jemput kakak di RSUD. Nanti kakak ceritakan kenapa kakak sampai di RSUD. Kakak tunggu di lobi, ya.” Aku mengakhiri telpon. Aku berjalan menuju kursi yang tersedia di ruang lobi rumah sakit, menunggu adikku.
“Kakak,” teriak Yusuf ketika pandangan kami bertemu.
Aku berdiri dan berjalan menghampirinya.
“Kakak cerita sambil jalan,” ucapku mendahului menuju kendaraan yang akan membawaku pulang k erumah orangtuaku.
***
HP-ku berulang kali bergetar, setelah tadi aku gunakan mode diam. Terlalu berisik. Berulang kali Bang Zain menghubungiku. Ya, sampai saat ini aku tidak mengabari Bang Zain di mana aku berada.
Aku ingin memberi pelajaran kepadanya. Untungnya aku sudah memberi kabar ke sekolah dengan menunjukkan izin sakit dari bidan yang bertetangga dengan rumah ibuku untuk izin tidak mengajar hari ini. Untuk hal ini aku lega.
Badanku masih terasa lemah. Belum lagi rasa mual yang terus menggoda sampai aku di rumah orangtuaku.
Dapat aku pastikan Bang Zain mencariku sampai di sekolah. Sementara untuk datang ke rumah orangtuaku Bang Zain tidak akan berani. Terakhir Bang Zain datang ketika ada acara kenduri arwah ayahnya untuk menjemput keluarga kami ke acara kenduri itu. Tragedi di rumah Bang Zain membuat Abah dan Mak serta adikku marah besar dengan Bang Zain karena tidak membelaku dari hinaan keluarga besarnya.
Mak memapahku ke ranjang setelah tadi membantukan di kamar mandi sehabis memuntahkan semua makanan yang susah payah aku makan sebelumnya.
Aku menutup mata sesampainya di ranjang. Air mataku menetes tanpa aku sadari, usapan lembut tangan keriput menyadarkanku. Mak masih berada di dekatku. (Bersambung)


