
8 tahun lalu, ikrar itu diucapkan Bang Rasyid atas namaku, cinta mungkin kata untuk anak remaja bukan untukku yang sudah telat waktu menikah.
Duda dengan 3 anak ditinggal mati istri, menjadi pelabuhan akhir kata orang yang menikah karena cinta. Tapi bagiku ini bentuk pengabdian kepada orangtuaku yang lelah memintaku untuk cepat menikah.
Gagal dalam bercinta rasanya membuatku tidak ingin membuka hati. Tak terasa tahun berlalu, umurku bertambah membuat rasa cemas orangtuaku jika sampai mereka menutup mata tidak ada yang menemani hari tuaku.
Anak sambungku yang tertua baru berumur 5 tahun ketika aku menjadi ibu sambungnya. Hanya dia yang menolakku sementara untuk kedua adiknya kala itu berumur 3 dan setahun hanya mengenalku sebagai ibu mereka.
Tahun berlalu tapi cinta tidak memenuhi rumah tangga kami. Ikrar ijab hanya sebuah kesepakatan antara aku dan Bang Rasyid. Aku tahu itu, walaupun Bang Rasyid berjanji akan memprioritaskanku tapi itu hanya ucapan pemanis bibir.
“Cahaya, bersiaplah. Kita pulang kampung. Abang sudah dapat cuti.” Tegas Bang Rasyid saat mengajak balik kampung.
Setelah 2 tahun menikah kami selalu pulang kampung untuk merayakan lebaran bersama keluarga besar Bang Rasyid. Lebih tepatnya bersama atok-nenek almarhumah istrinya.
“Pergilah Abah Mak tidak apa – apa.” Ucapk Mak kala aku meminta pendapat Mak tentang pulang kampung.
Abah Mak selalu memprioritaskan kebahagianku walaupun aku tahu mereka tidak bahagia. Bagaimana bisa bahagia pada momen pagi raya anaknya jauh di mata. Sebenarnya aku tidak masalah pulang kampung Bang Rasyid jika ada orangtua atau tetua yang akan didatangi. Kami bisa membagi lebaran dengan adil tapi ini, entahlah. Aku malas untuk berdebat apalagi Ayah Mak memberikan restu untuk aku tidak berlebaran bersama mereka.
Bang Rasyid tidak mempunya orangtua lagi hanya mantan mertua serta adiknya yang sampai sekarang masih tidak menerimaku sebagai iparnya.
Bang Rasyid seharusnya menikahi adik iparnya tapi entah mengapa Bang Rasyid menolak malah mendekatiku yang notabene sebagai guru SD anaknya kala itu.
Perkenalan tidak sengaja sebenarnya, kala itu Naura anak pertama Bang Rasyid terjatuh, hanya denganku saja Naura mau dibujuk, tersenyum mengingat itu. Entah sejak kapan Naura mulai tidak suka denganku.
Aku memandang laut luas yang membentang dari balik jendela kapal. Di pangukuanku ada si bungsu Nabil terlelap tidur. Bang Rasyid memangku Nabila. Naura duduk dengan pongahnya di sebelahku memainkan game dari android Bang Rasyid.
“Kebab, nasi goreng, kacang, tahu, telur puyuh,” teriak penjual sambil mondar-mandir di dalam kapal.
Kapal kami baru singgah pada salah satu dermaga untuk menjemput penumpang.
“Kak Naura mau jajan?” tanyaku kepada Naura
Tidak ada jawaban. Bukan hal biasa bagiku jika Naura tidak menjawab pertanyaanku.
“Naura, ditanya Bunda.” Suara Bang Rasyid terdengar.
“Naura mau telur puyuh dan tahu, Yah,” ucap Naura ketus.
“Nabil, bangun sayang ada yang jualan. Nabil mau beli sesuatu?” Ucapku membangunkan Nabil.
Mata yang selalu membuatku terpana sama seperti milik Bang Rasyid terbuka lebar.
“Nabil mau telur puyuh, Bunda,” ucapnya manja.
Nabil dan Nabila adalah pengobat lelahku atas sikap Bang Rasyid yang kadang kaku serta penolakan Naura kepadaku.
“Bang, 50 ribu telur puyuh, 20 ribu tahu,” ucapku pada penjual.
“Kenapa tahunya sedikit?” tanya Naura ketus
“Yang mau tahu hanya Naura sementara telur ada adik Nabil dan Nabila yang juga mau.” Aku menjelaskan.
“Beli saja 50 – 50, Abang juga mau tahu,” ucap Bang Rasyid.
Itulah Bang Rasyid selalu memanjakan Naura, bukanya menjadi penengah bagiku dan Naura tapi memperparah hubunganku dengan Naura.
Helaan napasku terdengar. Aku mengeluarkan uang untuk membayar apa yang kami beli.
“Bunda, Kak Naura nakal. Bunda jangan sedih, ya Bunda,” ucap Nabil sambil memelukku sayang.
“Bunda, Nabila mau sama Bunda,” rengek Nabila yang terbangun.
“Ok, Bang Nabil sama Ayah dulu gentian dengan Adek Nabila,” ucapku sambil mengusap kepala Nabil.
“Kampungan, Papa bukan Ayah,” ketus Naura.
Naura selalu seperti itu jika aku menyebut Ayahnya dengan panggilan Ayah, sudah biasa dengan tingkah Naura aku tidak menyimpanya dalam hati. Sepanjang perjalanan aku melayani tingkah Nabil dan Nabila kadang aku berfikir kenapa aku belum diberikan keturunan lagi setelah waktu itu aku harus merelakan calon anakku yang sudah berumur 6 bulan direnggut dari rahimku.
“Sudah, jangan menangis lagi, anggap itu tabungan kita untuk menuju surga. Masih ada Naura, Nabil, dan Nabila yang akan menemani kita.” Suara Bang Rasyid menenangkanku.
Bukan sekali tapi aku harus kehilangan calon bayiku sampai 2 kali dan sejak itu 4 tahun lalu aku mengikhlaskan diri jika hanya anak sambungku yang akan menjadi pengobat rinduku dan pengusir sepi jika lagi sendirian.
“Papa, kenapa Ibu Cahaya selalu ikut kita pulang kampung? Naura hanya ingin bersama Bunda Intan.” Suara Naura keras terdengar.
Berulang Naura menyebut tidak suka dengan kehadiranku diantara keluarga sebelah Mamanya. Entahlah, sejak 2 tahun kebelakangan ini Naura semakin sering menunjukkan ketidak sukaannya kepadaku, ada saja tingkahnya yang ingin memancing amarahku. Kadang Bang Rasyid juga terpancing dengan tingkah Naura. Pertengkaran yang selalu aku hindari dengan menyabarkan hatiku.
Sekali lagi aku menguatkan diri dengan mengatakan pada hatiku masih ada Nabil dan Nabila yang membutuhkanku.
“Naura jaga ucapanya sudah terlanjur Ibu ikut, tidak mungkin juga Ibu turun ditengah laut begini, emang Naura mau jika diturunkan ditengah laut begini mau pakai apa dimenuju pantai.” Ucap Bang Rasyid memujuk Naura.
Sakit, sakit sekali mendengar ucapan Bang Rasyid. pantaskah kalimat itu yang diucapkan Bang Rasyid, aku tersenyum miris.
Aku mengetik sesuatu kepada sepupuku, memintanya mengirim lagi ke HP-ku.
“Hore, kita sudah sampai,” teriak Nabil dan Nabila senang.
Kami lagi menunggu di tepi ponton menunggu Bang Rasyid mengambil koper dan bawaan kami untuk oleh – oleh mantan mertua dan adik Bang Rasyid.
“Bang, Cahaya harus pulang. Ibu tidak sehat. Maaf tahun ini tidak menemani Abang dan anak – anak lebaran di kampung,” ucapku sambil menunjukkan chat dari sepupuku.
Untung saja ada kapal yang akan berangkat ke Karimun sehingga aku punya alibi untuk menguatkan dramaku. Maafkan aku Allah, aku hanya ingin bahagia di hari yang fitri ini bersama Abah Mak, bukan bersama keluarga yang tidak bisa menerima kehadiranku. Nabil, Naura maafkan Ibu, bukan mengabaikan Nabil Naura. Ibu tahu kalian sayang Ibu, batinku lirih.
“Hati – hati di jalan. Travel sudah menunggu tidak mungkin Abang dan anak – anak menunggu sampai kapal berangkat perjalanan kami masih jauh,” ucap Bang Rasyid santai.
“Nabil mau ikut Ibu,” teriak Nabil.
“Nabila juga mau ikut Ibu, tidak mau dengan Ayah.” Suara Nabila menyusul.
Mereka, kedua anak sambungku memelukku erat.
“Biarkan Nabil Nabila ikut Ibu Yah. Kita berdua saja yang sama Kakek Nenek.” Ucap Naura ketus.
“Ya Yah, Nabil Nabila sama Ibu. Atok Nek lebih asyik daripada Kakek Nenek.” Serentak suara Nabil Nabila mengucapkannya.
Bang Rasyid memandangku. Tatapan kami bertabrakan. Aku cepat membuang muka. Malas untuk bereaksi dengan percakapan mereka. Yang penting Bang Rasyid sudah mengizinkanku untuk kembali.
“Cahaya, bisa Nabil Nabila ikut berlebaran dengan Cahaya?” ucap Bang Rasyid.
Ya Allah, sakit sekali hatiku. Pertanyaan yang seharusnya tidak ditanyakan oleh Bang Rasyid. Tidakkah Bang Rasyid melihat betapa aku tulus terhadap anak – anaknya daripada keluarga almarhumah istrinya yang selalu memanfaatkan anak – anak Bang Rasyid? Bukannya aku tidak tahu setiap bulan Bang Rasyid selalu mengirim uang untuk membantu keluarga almarhumah istrinya jika Nuara yang meminta.
Tanpa kata aku mengambil koper yang berisi baju Nabil Nabila yang memang berada pada koper yang sama, sementara keperluan Naura berada pada kopernya sendiri. Bajuku biarlah dibawa Bang Rasyid tidak mungkin kami membongkarnya di sini. Kau menggandeng tangan Nabil Nabila menuju loket kapal sambil merapal doa semoga masih ada kapal untuk kembali ke Karimun.
Tidak menoleh lagi ke belakang ketika Bang Rasyid memanggil namaku. Entah apa yang akan disampaikan Bang Rasyid, aku tidak peduli.
***
Gema takbir berbunyi. Sudah 3 hari aku tidak mengangkat ataupun membalas chat Bang Rasyid. Untungnya tidak ada pertanyaan dari Abah Emak melihat aku datang dan mengatakan untuk menginap dan berlebaran bersama mereka.
Aku memandang Nabil Naura yang bergembira bermain bersama keponakanku. Tahun ini kami berkumpul semua, rumah terasa meriah. Tidak seperti di rumah tua milik orangtua Bang Rasyid yang dijaga adiknya, terlalu kaku. Adik Bang Rasyid hanya memilik 1 anak yang pendiamnya tidak terkira, tidak bisa bermain dengan Nabil Nabila, sementara Naura selalu memilih menginap di rumah Kakek Neneknya sampai dengan liburan kami berakhir. Kadang aku berfikir, apakah Bang Rasyid tidak mau kumpul bersama keluarganya? Setiap kami sampai di rumah tua adik Bang Rasyid akan pulang ke rumah mertuanya. Kami hanya tinggal berempat, sampai Syawal tiba. Setelah solat tujuan kami hanya rumah mantan mertua tidak ada kebahagiaan Syawal sama sekali.
Percakapan hanya berputar pada kisah almarhum yang sepertinya sengaja dibuat segar oleh mantan mertua Bang Rasyid. bukannya aku tidak tahu mereka selalu meminta Bang Rasyid untuk menginap di rumah mereka tapi aku selalu berargumen kenapa harus menginap di rumah mantan mertua jika di rumah mertuanya sekarang tidak pernah Bang Rasyid mau menginap dengan alasan rumah dekat, kami bisa berulang alik kerumah orangtuaku.
“ Rasyid.” Emak menyorong HP miliknya kepadaku.
“Nabil Nabila, Ayah telepon.” Panggilku kepada kedua anak sambungku.
Gemas aku melihat mereka berlarian menghampiriku. Nabil lebih dulu memelukku. Wajah cemberut Nabila membuatku tersenyum. Selalu ada tawa di sela kekecewaan hatiku dengan Bang Rasyid.
“Ayah, seru lebaran di rumah Atok Nenek ada Pak Mak Ngah, Pak Mak Uda. Kak Ilham, Idham, Aiman, Aikal ramai kami lagi main kembang api dengan Atok.” Celoteh Nabil setelah HP milik neneknya menempel di telinganya.
“Ucap salam dulu, Nabil,” tegurku kepada Nabil.
“Maaf lupa Ibu, Asalamualaikum, Ayah.” Ucap Nabil dengan menatapku manja.
“Adek nak cakap dengan Ayah juga Bang Nabil,” rengek Nabila.
“Biar Abang dulu nanti Adeknya, sayang.” Ucapku sambil mengusap rambut Nabila.
Mereka berdua anak sambungku dengan manja memeluk sisi kanan dan kiri badanku. (Bersambung)


