Gemini_Generated_Image_mvcnwumvcnwumvcn
2 Views

“Jangan sedih, yang hidup pasti menghadapi masalah. Jangan lari dari masalah. Hadapi saja dengan bijak. Ibu hamil itu peka. Kehadiran suami sangat diharapkan. Mak tahu, Zain baik hanya didikan dari kecil, membuatnya jadi kurang bertanggung jawab. Jangan pendam semuanya sendiri. Berbincang itu lebih baik.” Nasehat Mak sambil mengusap pucuk kepalaku.

Aku tersenyum mendengar ucapan Mak.

“Ingin bubur kacang hijau,” pintaku spontan.

“Sudah jadi istri, manjanya dengan suami kalau ngidam.”  Mak mengatakan itu sebelum meninggalkan aku sendiri.

Terlalu lelah membuatku mengantuk. Setelah tidur aku berharap bubur kacang hijau sudah bisa aku santap.

“Ais, bangun. Katanya mau bubur kacang hijau.” Seperti suara Bang Zain, batinku.

Rasanya baru sebentar aku menutup mata, secepat itu buburnya masak? Rasanya mustahil, tapi aroma bubur kacang hijau terasa dekat di hidungku. Tidak mungkin aku mimpi.

Perlahan aku membuka netraku. Sosok Bang Zain menggantikan posisi Mak yang tadi di dekatku.

“Kalau sakit Ais selalu minta bubur kacang hijau. Ini, sudah abang bawakan. Makan ya. Abang suapkan?”  Bang Zain membujukku lembut.

Aku mencebikkan bibirku. Mungkin ini yang namanya mood swingnya ibu hamil. Semuanya mau dibawa nangis. Aku benci perasaan ini. Kemana diriku yang selalunya tegar menghadapi masalah? Terlebih masalah dengan Bang Zain dan keluarganya.

Aku membuka mulut menerima suapan bubur kacang hijau dari Bang Zain. Satu dua suap terlewati. Tidak terasa sudah habis buburnya masuk ke perutku. Kemana drama mual yang tadi sempat melanda sebelum Bang Zain datang? Menyebalkan. Masih di dalam perut sudah memihak pada ayahnya, batinku kesal.

Bang Zain mengambil tisu. Tangannya terulur mau mengelap bibirku yang belepotan tapi secepat kilat aku mengambil tisu dan mengelapnya sendiri.

“Ais mau tidur. Sebaiknya Abang pulang. Terima kasih. Besok – besok kalau Ais tidak meminta Abang datang sebaiknya Abang tidak usah datang,” ucapku ketus.

Aku merapikan bantal. Membalikkan badan membelakangi Bang Zain berpura – pura tidur.

Tidak ada pergerakan. Berarti Bang Zain belum juga meninggalkan kamar gadisku. Akhirnya aku tertidur dengan membawa rasa kesal yang menggunung.

Rasa lapar menusuk perutku. Aku menggeliatkan badan. Melihat sekeliling, tidak ada penampakan Bang Zain. Aku benci Bang Zain yang menuruti kataku untuk pulang. Tidak ada usaha untuk membujukku pulang. Aku mencebikkan bibirku tapi aku tidak boleh menangis. Kasihan dengan calon bayiku.

Rasa kesalku menggunung. Sambil makan aku terus memaki Bang Zain.

Makanku rasanya tidak kenyang> Aku ingin Bang Zain berada di dekatku tapi egoku menggunung. Akhirnya aku menyelesaikan makanku. Dan menuju kamar. Kembali rasanya hanya ingin memejamkan mata dan berharap akan mengurangi rasa kesalku pada Bang Zain.

***

Netraku membulat, pandangan yang pertama kali aku lihat ketika membuka mata adalah sosok Bang Zain yang tertidur sambil duduk disamping ranjangku. Wajah yang menerbitkan rindu dan benci sekaligus. Tanganku pelan terangkat ingin membelai rambutnya yang hitam tebal. Belum juga tanganku menyentuh rambutnya pergerakan kecil dari Bang Zain membuatku sadar, ini tidak boleh aku lakukan.

Menarik tanganku yang sudah terulur, aku menatap lekat sosok Bang Zain berharap setelah ini aku tidak lagi merindu sosok yang membuat kesal. Aku harus mengakhiri semuanya dengan Bang Zain aku harus belajar untuk tidak mengharapkan kehadiran Bang Zain dalam hidupuku. Aku akan mulai mengajarkan pada calon bayiku bahwa hanya aku dan keluargaku yang akan menghargainya. Kami tidak butuh orang – orang yang hanya menghargai jika ada maunya saja.

Aku bergerak pelan. Tidak ingin membangunkan Bang Zain yang sepertinya tertidur pulas.

Alhamdulillah saat ini aku berada di rumah Mak Long Kakak Ayahku, untuk sementara aku ingin menepi dari Bang Zain, untung saja Abah Mak setuju dengan ideku untuk menepi. Bang Zain tidak pernah akan datang ke rumah Mak Long. Bang Zain begitu takut dengan Mak Long, Mak Long pernah mengamuk besar. Acara tahlilan mertua lelakiku yang ke 40 hari, aku tidak tahu siapa yang mengudanga Mak Long.

Nerta Mak Long menatap nyalang ketika melihatku bagaikan Babu di rumah mertuaku dengan pakain lusuh. Lebih celakannya lagi baju gamis pemberian Mak Long ketika wisata ke Malaysia dikenakan oleh Kak iparku. Sejak saat itu Bang Zain diharamkan oleh Mak Longku untuk menginjakkan kakinya di rumah Mak Long.

Aku menghela napas berat, ketika membaca chat Bang Zain menanyakan keberadaanku. Berulang kali dering panggilan masuk dari hp Bang Zain tak terhitung chat yang hanya terbaca tidak ada niat untuk membalasnya.

“Tetap sehat anak umi.” Aku mengusap lembut perutku.

Umi panggilan yang kami siapkan untuk calon anak kami, aku terseyum miris mengingat masa itu.

“Umi, anak kita akan memanggil Ais umi sementara Abang akan dipanggil Abi.” Kala itu setahun yang lalu ketika datang bulanku terlambat. Tapi harapan kami sirna dengan datangnya tamu bulananku dan hal itu membuat mertuaku bertambah sikap tidak Sukanya kepadaku.

Aku memandang deretan pot bunga mawar di depanku saat ini. Mak Long pemuja bunga mawar setiap sudut rumahnya tidak terkira banyaknya pot bunga mawar.

Aku menyusut sudut netraku yang mengeluarkan air  bening aku memilih mundur tidak lagi mau dianggap sampai oleh Bang Zain dan keluarganya.

Berusaha menarik simpati dengan mengorbankan diri dan pendapatanku rasanya tidak membuahkan hasil, aku tidak mau titik peluhku tidak dihargai orang, sungguh aku tidak mau.

***

Sepekan sudah aku menumpang di rumah Mak Long, rasa ikhlas membuatku tidak lagi membutuhkan kehadiran Bang Zain.

“Maaf, ibu harus menjawab telepon masuk dulu,” ucapku. Kosentrasiku lepas getar hp-ku penyebabnya.

Hari ini tidak seperti kebiasaanku meninggalkan HP di majelis guru. Sejak pergantian jam tadi aku merasakan dadaku berdebar, seperti ada yang tidak kena. Itu pula yang menyebabkan aku membawa HP-ku ke dalam kelas dan mengaktifkan nada getar.

Nama abah tertera di layar HP-ku, aku menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan dari abah.

“Asalamualikum, Bah, Ais masih di dalam kelas, Bah. Sekitar setengah jam lagi Ais selesai. Nanti Ais hubungi Abah lagi.” Bak kereta api aku berucap kepada Abah.

“Ais, bawa duduk dulu pasti Ais sekarang lagi berdiri. Ada yang ingin Abah sampaikan sebelum Abah sampaikan berita ini. Minta salah satu murid Ais untuk mendampingi Ais, ya Nak.” Abah menjeda ucapnya di seberang sana.

“Sudah duduk, Ais?” tanya Abah lagi ingin memastikan aku duduk.

Dadaku berdetak kencang, ada apa sampai Abah memintaku untuk duduk.

“Ais sudah duduk Abah ini ada Nilam di samping Ais, Bah. Ada apa, Abah?” Suara gemetar terdengar terucap.

“Zain kemalangan. Parah. Sekarang di RSUD. Zain tidak mau masuk ruang operasi sebelum berjumpa dengan Ais. Abah sudah di majelis guru. Abah antar Ais ke RSUD, ya. Tarik napas dalam – dalam tenangkan diri Ais baru keluar kelas.” Titah Abah.

“Innalilaahi wainna ilaihi rojiun,” ucapku spontan.

Badanku melemah tapi aku harus kuat. Nilam, muridku juga anak tetangga rumah Mak Long serta Semua netra murid menatapku mendengar ucapan yang baru saja aku ucapkan.

Nilam memegang badanku kuat.

“Nilam antar Ibu ke majelis guru sekarang, pelan – pelan Bu.” Ucap Nilam

Bukan hanya Nilam ada 3 lagi murid Perempuan di kelas yang aku ajar memapah diriku, aku disambut Abah di depan majelis guru. Mereka muridku masih mendampingiku sampai duduk dalam kendaran rota empat yang sudah menunggu kami di depan sekolah.

Aku tidak bisa menahan tangisku, memeluk erat cinta pertamaku, isakku dan sesak dadaku bercampur menjadi satu.

Dekapan hangat dari cinta pertamaku tidak bisa mengurangi rasa sesak di dadaku.

“Ya Allah, aku tidak menginginkan pisah alam dengan Bang Zain,” batinku melara.

Gojek yang dicater Abah sampai di depan RSUD, aku bergegas menuju ruang ICU. Tidak aku hiraukan tatapan nyalang keluarga Bang Zain kepadaku.

“Saya istri pasien.” Ucapku kepada perawat yang berada di ruang ICU.

“Silakan masuk, cepat pasien banyak kehilangan darah harus secepatnya dioperasi.” Ucap perawat jaga.

Aku memakai baju streil sebelum masuk ruangan ICU. Bang Zain terbaring lemah. Tatapan kami beradu, aku melangkah mendekati brankas terbaringnya Bang Zain.

“Ais maafkan Abang, Abang lebih baik mati daripada Ais meninggalkan Abang. Abang salah maafkan Abang, Ais mau Abang meninggalkan keluarga Abang akan Abang lakukan tapi Ais jangan meninggalkan Abang. berjanjilah.” Ucap Bang Zain terbata.

“Ais berjanji sekarang Abang diobati dulu ya Bang, Ais akan menunggu Abang sampai keluar dari ruang operasi.” Ucapku lembut.

“Terima kasih Bu, tolong tanda tangan di sini.” Ucap perawat sambil menyerahkan form yang harus aku tandatangani.

Aku melangkah di samping brankas yang Bang Zain sampai di depan ruang operasi. Pintu ruang operasi tertutup lampu merahnya menyala tanda operasi di mulai.

Aku melangkah mendekati Abah yang duduk di salah kursi yang tersedia di kiri kanan Lorong ruang operasi.

Seberang kursi kami aku sempat melihat Ibu mertuaku dan kakak iparku yang memeluk mertuaku.

Tidak ada niat untuk menyapa, aku memilih menjaga Kesehatan hatiku.

“Ais sana, salam dulu dengan mertuamu jangan ikut kata hati. Jangan lupa apa yang Abah ajarkan.” Bisik Abah kepadaku.

Aku jadi malu dengan Abah, seakan melupakan apa ajaran Abah karena masih menyimpan kesal dengan keluarga Bang Zain.

Aku berdiri melangkah kedepan.

“Asalamualaikum Ma, Kak.” Ucapku sesampainya di depan mereka.

Aku meraih tangan mertua dan kakak iparku, mencium tangan mereka takzim. Setelah itu aku Kembali kearah Abah dan duduk di sampingnya.

Harapan kami tentunya operasi Bang Zain berjalan lancar tidak ada komplikasi secepatnya Bang Zain sembuh.

Waktu berlalu tak terasa sudah 3 jam Bang Zain ada di dalam kamar operasi, jantungku tiba – tiba berdegup kencang. Keringat dingin keluar dari pori – poriku rasa tidak nyaman terasa di badanku.

Gelap menghadang pandanganku suara Abah terdengar menjauh dan aku kehilangan kesadaran.

***

Genggaman hangat terasa di tanganku, perlahan aku membuka netraku, senyum Bang Zain terlihat jelas di netraku. Brangkas kami berdampingan, tangan kiriku di inpus sementara tangan kanan Bang Zain juga dipasang inpus. Tangan kiri Bang Zain menggengam tangan kananku erat.

“Abang sudah selesai operasi?” tanyaku cemas.

“Sudah 5 jam selesai, pas Ais pingsan cerita Abah.“ Ucap  Bang Zain.

Aku melihat kepala Bang Zain yang terbalut perban. Cedera dikepala banyak mengeluarkan darah, Bang Zain mendapatkan 10 jahitan hanya geger otak ringan kata dokter. Itu semua aku ketahui dari cerita Bang Zain.

Saat ini infusku sudah dilepas, aku terlalu lelah dan belum makan setelah mendapatkan kabar kecelakaan Bang Zain. Untun kandunganku tidak apa – apa begitu cerobohnya aku sampai melewati sarapan dan makan siangku.

Semua peristiwa rasanya ingin membunuhku, dari masalah dengan keluarga besar Bang Zain sampai dengan kecelakan Bang Zain karena sibuk mencari keberadaanku yang tidak diketahuinya.

Ibu mertuaku beserta Kakak Iparku sempat meminta maaf sebelum pulang meninggalkan RSUD atas permintaan Bang Zain, Bang Zain hanya ingin ditunggui oleh Aku dan keluargaku saja katanya. Dan Abah telah berjanji dengan mertuaku untuk menjaga Bang Zain.

Raut wajah berat sewaktu meninggalkan Bang Zain jelas terlihat di wajah mertua dan Kakak Bang Zain. Tapi Bang Zain tidak mau mereka menentang Keputusan Bang Zain.

Entahlah apa aku merasa senang atau apa melihat sikap tegas Bang Zain kepada Ibu dan Kakaknya. Atau itu hanya akal – akalan Bang Zain untuk memanfaatkan aku lagi karena tidak mau menyusahkan ibu dan kakaknya mengurus dirinya yang sakit. Entahlah.

***

Abah yang berjanji bukan diriku, lagi pula kondisi Bang Zain tidak parah hanya karena bagian kepala yang luka sehingga banyak mengeluarkan darah. Sementara kaki terkilir sehingga susah untuk berjalan.

Panikku tak beralasan waktu itu, Bang Zain memanfaatkan kelemahanku selalu begitu.

Walaupun Bang Zain sekarang tinggal bersamaku dirumah orangtuaku, semua yang dibutuhan Bang Zain aku serahkan kepada Abah dengan alasan mual yang aku sengaja.

Ada rasa iba melihat tatapan memelas Bang Zain ketika kami bertatapan tapi hatiku masih luka dengan perbuatan Bang Zain yang tidak pernah membelaku didepan keluarganya, rasa yang membuatku seakan mati rasa jika mengingatnya.

Sepekan berlalu, Sabtu ada undangan keluarga yang menikah di pulau, karena kondisi yang hamil muda Abah Mak dan adikku tidak mengizinkan aku ikut.

Dengan berat hati aku harus berduaan dengan Bang Zain di rumah.

Drama mual dan muntah aku mainkan, dengan susah payah Bang Zain berusaha membantuku, padahal kondisi Bang Zain lebih buruk dariku. Dengan susah payah Bang Zain mendekati ketika aku dengan mengheret kakinya.

Mual yang tadi hanya drama entah karena aku berbohong pagi tadi menjelang siang aku merasakan mual dan muntah yang menyulitkan diriku.

Lembut tangan Bang Zain memijit tengkukku, setelah melepas jilbabku. Niat hati ingin keluar meninggalkan Bang Zain sendiri di rumah, durhaka kata kami orang melayu atau mungkin anakku marah aku tidak memperdulikan Ayahnya.

Sejak tadi dengan susah payah Bang Zain membantu diriku yang bolak balik dari kamar ke kamar mandi, untung saja di kamar ada kamar mandi jika tidak pasti muntahanku tercecer di mana – mana.

“Makan dulu abang sudah membuatkan bubur untuk Ais.” Ucap Bang Zain sambil menyodorkan sesenduk penuh bubur di depan mulutku.

Aku mencebik melihat Bang Zain tapi aku menerima suapan darinya sungguh aku butuh asupan karena perutku terasa perih.

Perlahan tapi pasti satu suap ke suapan lainya tidak terasa semangkok penuh bubur habis aku makan. Kali ini Bang Zain menyodorkan jus buah naga, dan dengan lahap aku meminumnya dalam gelas besar yang disodorkan Bang Zain.

“Istirahatlah, kalau ada apa – apa panggil Abang, ya.” Ucap Bang Zain sambil berlalu membawa nampan berisi mangkok dan gelas yang habis aku gunakan.

Pintu kamar tertutup dengan sempurna, isakku kutahan, jangan sampai Bang Zain mendengarku menangis.

Rasa cintaku tidak bisa aku tipu walaupun sakit hati ini. Aku mengakui Bang Zain mencintaiku dengan caranya tersendiri.

Mungkin dalam 1000 hanya ada beberapa anak yang seperti Bang Zain yang patuh kepada keluarganya, kadang aku merasa Bang Zain tidak mencintaiku.

Rasa ini sangat menyiksaku antara cinta dan marah ini seakan membunuh apakah aku kuat untuk menahannya lebih lama lagi. Sekarang saja aku tidak bisa jika harus berjauhan dengan Bang Zian. Ah apa yang harus aku lakukan perlahan tanganku membelai perutku, semoga ada titik terang dalam rumah tangga kami dengan kehadiranmu, Nak. Ibu akan memberikan kesempatan terakhir untuk ayahmu, semoga kesempatan ini tidak disia – siakan oleh Bang Zain karena aku tidak mau lagi tercekik oleh sikap Bang Zain yang lemah terhadap keluarganya.

“Bang, demi anak dalam kandunganku kita akan mencoba sekali lagi, tapi jika tidak berhasil kita akan saling mendoakan kebahagian kita bukan dalam ikatan pernikahan.” Ucapku mantap.

Netra kami bertabrakan. Ekspresi terkejut terlihat jelas di wajah Bang Zain.

“Ais tidak butuh kata berupa janji tapi tindakan yang pasti dari Bang Zain untuk melindungi Ais dan anak kita. Ais tidak mau anak kita melihat ibunya selalu dihina oleh nenek dan keluarga besarnya,” ucapku mantap. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *