Gemini_Generated_Image_waeb2kwaeb2kwaeb
63 Views

Sesak rasanya dada ini, kepala sedari tadi sudah mau pecah dengan semua masalah yang terjadi.

“Bu Rohaya apa masih bisa masuk kelas? Pucat sekali. Lebih baik Ibu istirahat dulu. Jangan dipaksakan. Nanti malah tumbang di dalam kelas.” Suara Bu Anita mengingatkanku.

Sebelum berangkat sekolah aku sudah mengantongi seribu masalah rumah, pinjaman yang dekat dengan jatuh tempo. Belum lagi beberapa lobang di atap yang sudah membuat resah jika musim hujan tiba. Sementara belum ada penampakan akan turunnya uang sertifikasi.

Sejak setengah tahun ini aku harus pusing tujuh keliling memikirkan bagaimana nasib rumah tanggaku yang LDR dengan suamiku yang terpaksa mengais rezeki di sebarang. Semua rasanya menghimpit dada.

Nita, muridku yang selalu menjadi teladan dalam kedisplinan entah angin apa pagi ini terlambat dengan luka lebam di pipinya yang mulus.

Mereka, muridku ribut melihat tampang Nita yang babak belur seperti petinju baru bertarung. Akhirnya kelasku tidak kondusif untuk belajar. Mereka berbisik – bisik menerka apa yang terjadi dengan Nita. Belum lagi kecerobohanku memecahkan gelas yang bukan milikku. Dan yang lebih sialnya lagi gelas itu harganya tidak kaleng – kaleng. Sementara aku hanya membawa gelas wadah sabun promosi salah satu supermarket di daerahku. Tiga puluh lima ribu memang bukan besar tapi saat ini uang sebesar itu amat berharga untuk membeli gelas pengganti yang aku pecahkan.

Ah, untung saja Ibu Nisa tidak meminta cepat aku mengganti gelasnya. Tapi aku tetap harus menggantinya, batinku memelas. Hari ini berakhir dengan segala masalah yang membuat kepalaku kembali berdenyut keras. Akhirnya dengan menghela napas berat aku menjalankan motor tuaku menuju rumah. Aku pulang.

***

Aku menatap langit kamar, terasa sepi. Baru lima belas menit aku menutup laptop sekolah yang aku pinjam untuk merekap nilai. Pandanganku teralih kembali ke laptop sekolah yang selalu menjadi langgananku untuk menyelesaikan administrasi sebagai guru. Terlalu mewah rasanya. Tidak, tapi aku belum bisa memprioritaskan laptop dalam daftar belanjaku.

Semuanya terasa menghimpit. Empat tahun sudah berlalu sejak wabah covid-19 melanda tapi imbas perekonomian rasanya masih mencekik leher. Tabungan keluarga kami terkuras habis. Dulu sebelum covid aku masih bisa menambah penghasilan dengan memberikan les tambahan dengan penghasilan yang lumayan. Ternyata setelah covid dikatakan aman tidak ada lagi yang mau menggunakan jasaku lagi. Belum lagi suamiku harus kehilangan pekerjaan dan berakhir setelah covid harus merantau melintas pulau untuk mengais rezeki.

Dan saat ini semuanya terasa lebih berat, darimana diriku mendapatkan uang sebesar 3 juta untuk memperbaiki motor butut itu. Janji tetap janji apalagi dengan susah payah meminjamnya. Jangan sampai karena hutang tali silaturahmi menjadi putus, sungguh semua itu menjadi beban yang menghimpit dada.

“Ya Allah semoga besok dana sertifikasi cair,” batinku lirih.

***

Pagi menyongsong, informasi. Dimana – mana terjadi banjir. Hatiku semakin gundah. Bagaimana tidak gundah mengingat lubang – lubang kecil di atap dapur. Jika hujan turun kecil mungkin masih ditampung dengan ember, helaan napasku. Tidak melegakan dada yang sesak.

Nasi goreng kampung, segelas teh sudah aku siapkan untuk dibawa ke sekolah. Hari ini aku masuk mengajar pukul 08.45 sementara absen datang ke sekolah pukul 07.00 masih ada waktu untuk sarapan di sekolah sebelum masuk mengajar.

Aku mengunci pintu rumah melihat sekeliling memastikan semuanya aman sebelum berangkat dengan motor butut itu. Melihatnya sekilas masih ada hutang yang mencekik leher ketika mengendarainya.

Menekan tombol starter, mesin motor langsung hidup begitu juga dengan suaranya tidak lagi mengganggu pendengaran. Itu semua berkat uang 3 juta yang aku pinjam. Lagi – lagi helaan napas keluar dari mulutku, ya Allah semoga hari ini pencairan dana sertifikasi keluar.

***

Masih saja takdir mempermainkan hidupku, masih pagi jalanpun masih sepi tapi nasib sial tidak dapat di elak, kendaraanku yang berjalan standar diserempet oleh mobil yang dikemudi ugal – ugalan oleh sopir yang tidak bertanggung jawab.

Tidak ada yang parah dari tubuhku tapi lihatlah kendaranku yang baru saja diservis harus diservis Kembali, mencium aspal yang keras membuat beberapa bagiannya lecet belum lagi stangnya tidak lagi lurus ketika aku mengendarainya.

Lelah seharusnya aku sudah sampai di sekolah malah pakir di bengkel yang untungya sudah buka di pagi hari.

Aku memilih meninggalkan kendaraanku di bengkel melanjutkan perjalanan kesekolah dengan gojek, melihat jam tanganku, terlambat. Untung aku sudah mengirim foto kecelakaan yang aku alami serta meminta izin atas keterlambatanku hari ini.

***

Hari berlalu dengan cepat. Rasanya aku harus memikirkan kata jitu untuk meminta penundaan atas pembayaran yang harus aku lakukan. Aku menghabiskan hari ini dengan sedih. Hutang serta biaya bengkel harus cepat aku lunasi tapi dana sertifikasi tidak kunjung cair juga. Tinggal 5 menit pukul 4 sore habis sudah harapanku.

Ting, notifikasi terdengar dari hp jadulku. Ya Allah semoga notifkasi ini adalah tanda cairnya dana sertifikasi. Dengan bismillah aku membuka chat. Hh, hatiku mengeluh. Ternyata dari pemilik bengkel yang menjelaskan kendaraanku sudah bisa diambil dengan biayanya delapan ratus ribu. Kepalaku berdenyut kuat, tanganku pun tidak tinggal diam memijit keningku. Berharap dengan aku melakukan pijitan kepalaku tidak lagi berdenyut.

Belum lepas hembusan napasku, masuk satu lagi notfikasi di HP-ku. “Ya Allah, jangan lagi kabar yang membuat hatiku tidak tenang,” batinku memelas. Dengan tangan gemetar aku membuka notifakasi di hp-ku.

“Alhamdulilah Ya Allah, dana sertifkasi cair,” teriakku dalam hati.

Segala puji bagi-Mu, Ya Allah. Kau tidak meninggalkan hamba-Mu yang sangat membutuhkan pertolongan, ucapku berkali – kali dalam hati sambil memuji Asma-Nya. (Bersambung)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *