
Isakku tertahan. Sadar Aisyah Binti Umar, pekikku tanpa suara. Benar, tidak ada yang memperdulikanku menangis.
Bang Zain, suamiku hanya melihat diriku menjadi bahan ejekan keluarga besarnya. Seakan tidak mengenalku. Lihatlah dirinya masih bisa berbaur tertawa lepas. Entah apa yang mereka perbincangkan. Atau masihkah diriku yang menjadi objek pembicaraan mereka?
Selepas dari sekolah aku langsung ke rumah mertuaku. Belum sempat berganti kostum. Gamis senada dengan jilbab kutitipkan dengan Bang Zain yang pergi duluan.
Sesampai di rumah mertuaku, baju yang aku titipkan dengan Bang Zain malah dipakai oleh adik iparku. Ketika aku mengatakan itu pada Bang Zain dengan santai dia mengatakan, di belakang saja sampai acara selesai, dan akhirnya aku menjadi bahan omongan keluarga besar Bang Zain. Menusuk hatiku perkataan mereka. Aku tidak punya sopan datang ke acara mertua dengan menyebut aku salah kostum.
Untung saja hari ini, Kamis minggu ke empat di sekolahku boleh memakai batik bebas. Bayangkan jika aku memakai baju olahraga mau diletak dimana wajahku?
Tasyakuran ini adalah untuk keberangkatan umroh ibu mertuaku bersama kakak tertua Bang Zain yang sepekan lagi akan berangkat. Sesak rasa dadaku. Separuh uangku dipakai Bang Zain untuk itu tapi apa yang aku dapat hanya cacian belaka.
Setelah acara pengajian oleh ustaz dan doa aku tidak lagi memperdulikan kata sopan. Aku meninggalkan rumah mertuaku tanpa pamit.
***
Aku berkutat dengan alat perangku. Menekan hurup – hurup pada kybord laptop membuat asesmen sumatif untuk menguji kompetensi anak didikku. Tidak aku hiraukan suara kendaraan roda empat milik kami yang dipakai Bang Zain memasuki garasi. Biasanya aku akan berhenti bekerja dan menyambut Bang Zain pulang. Kali ini tidak.
“Ais, buka pintunya.” Suara melengking Bang Zain bergema.
Aku lupa membuka pintu samping yang menyambungkan garasi dengan rumah. Sesampainya di rumah, tadi aku berjibaku di kamar tamu. Dan setelah mengisi perut yang menjerit lapar dengan sebungkus nasi uduk aku duduk di depan laptop ini.
Aku membiarkan Bang Zain yang berulang kali memanggilku. Netraku menatap HP-ku yang menampilkan nama Bang Zain. Pemalas tinggal mengambil kunci dan membuka pintu saja tidak mau, omelku meraih HP dan mengeser tombol hijau.
“Ais Dimana? Buka pintu samping.” Suara Bang Zain terdengar.
“Di kamar tamu. Kunci, Abangkan ada. Buka aja sendiri. Ais lagi sibuk. Masalah buka pintu aja. Tidak akan membuat tangan Abang luka,” ucapku dingin dan langsung memutus sambungan telepon kami.
Tok tok tok, terdengar suara ketukan pintu. Tidak keras tapi mengganggu kosentrasiku.
Itu kerjaan Bang Zain, kataku dalam hati. Kadang aku berfikir seolah menikah dengan dua orang lelaki. Sikap Bang Zain bertolak belakang jika kami berada di keluarga besarnya. Sikap tidak perhatian, membuat hatiku kesal. Itu selalu dipamerkan Bang Zain. Tapi jika kami berada di luar circle keluarga Bang Zain sangat penyayang dan romantis.
“Ais buka pintunya, Abang tidak punya kunci kamar tamu. Ai sudah makan? Ada titipan makanan dari Ibu buat Ais, nih. Ais kenapa tidak pamit tadi? Ais buka pintunya.” Suara Bang Zain dari luar pintu.
Tidak ada kata maaf. Sudah memperlakukan aku tidak adil. Itu sudah berulang kali terjadi sejak kami menikah. Aku memang bukan dari kalangan atas seperti keluarga Bang Zain tapi aku bisa membuktikan aku lebih hebat dari pada ibu dan kedua kakak Bang Zain yang hanya menumpang hidup dari suami mereka. Semetnara Ibu mertuaku juga sama dengan kedua anaknya, menumpang hidup dari suami, atas harta peninggalan turunan yang katanya tidak habis hingga tujuh turunan. Tapi nyatanya mau pergi umroh saja masih menggunakan uang sertifikasiku untuk satu tahun.
“Ais, buka pintunya. Makan dulu. Nanti sakit.” Suara sok perhatian menjadi kunci Bang Zain.
“Simpan saja di lemari es. Ais banyak kerja. Jangan ganggu Ais. Ais sudah makan. Tidak perlu menunggu pemberian orang baru makan,” ucapku dingin.
Rumah serta mobil ini bukan hasil titik peluh bekerja. Menjalin kasih dengan Bang Zain selama 3 tahun sebelum memutus menikah aku sudah bekerja free line, membuatkan pembukuan salah satu perusahaan yang membutuhkan laporan keuangan untuk kepentingan usaha mereka. Belum lagi aku membuka kursus akuntansi dan Bahasa Inggris bagi yang berminat. Dan alhamdulillah aku punya 6 orang guru kompenten di bidangnya. Bisa dibilang aku pengusaha bidang jasa pendidikan.
Aku tidak mau mengandalkan Bang Zain. Seperti kata ibunya ketika Bang Zain mengajakku untuk meminta restu sebelum kami menikah, Bang Zain anak lelaki semata wayang. Konon walaupun berat mertuaku tidak bisa menolak permintaanya. Nyatanya aku yang menanggung sakit dalam pernikahan selama 2 tahun ini.
Entah berapa banyak kali aku disisihka di acara keluarga besar Bang Zain. Mereka hanya tahu aku guru biasa sementara mereka dari kalangan pengusaha yang punya usaha sendiri yang katanya bisa memberi makan orang banyak. Tapi itu tidak berlaku untuk ibu mertuaku serta kakak Bang Zain setelah ayah mertuaku meninggal dunia 3 bulan setelah kami menikah.
Bang Zain hanya memegang 1 usaha almarhum bapak mertuaku yang hanya bisa menghidupi Bang Zain, ibunya dan adik bungsunya saja. Sementara kakak – kakak Bang Zain selalu meminta jatah padahal mereka punya suami.
Aku tidak mau mempermasalahan rezeki mereka tapi hari ini aku benar – benar kecewa dengan Bang Zain yang tidak memikirkan harga diriku sebagai istrinya.
Aku memasang headset di telingaku untuk tidak mau mendengar rayuan Bang Zain dari luar, meminta aku membukaan pintu kamar tamu.
Entah berapa lama aku mengunci diri di kamar tamu. Hingga perutku terasa lapar lagi. Melirik jam di HP-ku, sudah pukul 11 malam, Ah, ternyata sudah 3 jam aku mengurung diri di kamar tamu. Air putih sebanyak 1,5 lt tandas aku habisi. Malas untuk membuka pintu aku membaringkan diri di ranjang kamar tamu memeluk guling meraih mimpiku.
***
Suara azan membuatku terbangun. Berjalan menuju kamar mandi. Biasanya aku mandi dulu sebelum sholat subuh tapi pagi ini aku memilih sholat dulu baru selepas itu membuat sarapan buat diriku sendiri baru mandi dan berangkat ke sekolah.
Aku tersenyum melihat sarapanku sudah tersusun rapi dalam wadah yang selalu aku gunakan untuk membawa bekal. Aku melangkah menuju kamar. Kebiasan tidak mengunci pintu itu sisi jelek Bang Zain, entah sengaja atau tidak kata Bang Zain ada aku yang memastikan semuanya terkunci.
Aku masuk perlahan. Hari ini aku mengabaikan sikap sebagai istri yang berbakti kepada suami. Mengambil semua yang aku perlukan untuk berangkat sekolah dan memboyongnya ke kamar tamu untuk bersiap diri ke sekolah. Aku berangkat tanpa pamit.
Suara HP-ku meraung. Aku melirik sepintas panggilan Bang Zain. Aku tetap menyantap sarapan yang aku bawa dari rumah.
Pukul 08.45. Terlambat sudah pasti buat Bang Zain. Manja itu sifat Bang Zain. Aku bagaikan pengasuh bayi besar yang harus menyiapkan semua kebutuhannya. Jika tidak aku bangungkan Bang Zain tidak akan sholat subuh. Kebiasaan buruk.
Notifkasi chat masuk, setelah sekian kali aku tidak mengangkat telepon dari Bang Zain.
“Ais jangan marah lagi. Abang salah. Sekarang Abang di meja piket. Abang bawakan sarapan untuk Ais. Abang tunggu Ais ambil sarapannya.” Itu chat Bang Zain.
“Tinggalkan saja di meja piket atau Abang bawa untuk Abang saja. Ais lagi sarapan sekarang.” Balasan chatku tidak lupa aku mengirim fotoku yang sedang makan. (Bersambung)


