
Netraku menatap lekat gawaiku. Tidak ada getar. Sudah lebih dua jam aku mempelototinya, naik lelah mata ini dibuatnya. Sudah dua pekan ini semua janji terabaikan.
“Bakda zuhur kita akan bertukar kabar, biar Abang yang menelepon, ya Ika?” Itu dulu setengah tahun yang lalu, janji terpatri.
Hanya tinggal tiga bulan lagi kami naik pelamin. Ya, Arkanza si pembuat janji tunanganku yang terpaksa berjauhan untuk melaksanakan tugas belajar untuk kenaikan pangkatnya selama 1 tahun. Waktu berjalan sudah 6 bulan. Kami harus menahan rindu, rindu yang selalu terbalaskan ketika bakda zuhur akan terobati dengan VC selama setengah jam. Kadang, malah kurang.
Jam mengajarku, kebetulan hari ini hanya sampai pukul 11.45 WIB, sisa waktu aku gunakan untuk membuat lembar kerja bagi muridku sembari menunggu telepon dari Bang Arkan yang tidak kunjung memanggil.
Azan asar berkumandang. Rasanya seperti kemarin – kemarin Bang Arkan tidak akan meneleponku. Hari ini aku tidak akan mengirim chat apa – apa. Rasanya 2 pekan ini sudah cukup aku menulis chat tapi tidak mendapatkan balasan walaupun hanya berupa emoticon hati atau gambar kata rindu jika Bang Arkan tidak bisa menulis kalimat panjang, misalnya.
***
Aku baru saja masuk ke kamar setelah tadi makan malam bersama Abah dan Mak yang menjadi rutinitas keluarga kami. Sejak Abangku menikah kami hanya tinggal bertiga saja.
Bang Arkan membuatku terpesona pada pandangan pertama dirinya hadir di rumah kami bersama Bang Zulfikar, abangku, waktu itu.
Hampir setahun bertamu baru abangku mau memperkenalkan teman baiknya kepadaku. Sebelum kami bertunang banyak nasehat yang diberikan abangku.
“Bawa sholat istikharah, jangan hanya sekali. Berulang kali lakukan supaya petunjuk-Nya benar dan tidak membuat Ika menyesal di belakang hari.” Itu nasehat Bang Zul kepadaku saat hatiku ragu pada temannya itu.
Terlihat jelas ketika cincin tunangan terselipkan oleh Bang Arkan. Ada raut tidak rela di wajah abangku.
“Adikmu sudah besar sudah waktunya ada lelaki lain yang menjaganya, Zul. Sekarang ada istrimu yang harus diperhatikan lebih. Ingat itu.” Nasehat abah kepada Bang Zul yang kala itu baru menikah 6 bulan sewaktu aku dan Bang Arkan bertunang.
Hatiku patah, rasanya ada yang tidak pada tempatnya. Jadi teringat kata orang tua – tua di kampungku, banyak godaan kalau bertunang. Karena itu di kampungku tidak ada yang bertunang melebihi setengah tahun. Mungkin aku salah satu yang tidak mempercayai mitos itu sehingga masa bertunang kami mencecah satu tahun.
Rasa was – was muncul tanpa bisa aku kawal. Apalagi hatiku patah dengan ketidakpedulian Bang Arkan selama 2 pekan ini. Menguatkan hati yang patah mungkin ini hanya cobaan orang bertunang, gerutuku di hati.
Masuk pekan ketiga bukan getar telepon yang membuatku bergetar tapi kehadiran Bang Arkan dengan wajah yang penuh beban. Berusaha menenangkan hati, mungkin hanya perasaanku saja karena sudah lama tidak mendengar dan melihat Bang Arkan walaupun hanya melalui VC.
“Abang terlihat lelah, jam berapa sampai dari Batam?” tanyaku membuka bicara.
Kami Sudah duduk berhadap – hadapan di ruang tamu rumahku lebih dari setengah jam, tapi tidak ada kata yang terkeluar dari mulut Bang Arkan. Tidak juga setelah aku bertanya kabarnya tadi sebelum aku melanjutkan bertanya mengapa Bang Arkan terlihat lelah.
Masih tetap membisu, naik darahku melihat kebisuan Bang Arkan. Wajahku tentu merah ketam direbus. Ruang tanganku sudah memutih karena terlalu lama aku menggenggamnya.a
“Abang pulang saja, Ika tidak butuh kehadiran Abang jika Abang terpaksa datang hanya dengan menunjukkan rasa tidak senang bertemu dengan Ikan,” ucapku emosi.
Meninggalkan Bang Arkan di ruang tamu seorang diri, tapi dia diam saja. Bertambah kesal hatiku melihat Bang Arkan tidak menahanku. Dia masih dengan kebisuan panjangnya.
Sesampainya di kamar aku menumpahkan rasa kesalku dengan menangis sampai aku tertidur.
***
Tok tok tok suara ribut ketukan di pintu kamarku membuatku membuka mata yang masih terlem rapat. Sakit kepala yang menghantam membuat emosi meninggi. Siapa gerangan yang mengganggu hariku yang sudah hancur lebur?
Rasa kesalku terhadap Bang Arkan bertambah dengan si pengacau yang mengganggu tidur. Ingin rasanya aku memaki tapi aku ingat aku jangan sampai berkawan dengan setan. Nauzubillah. Aku seperti tersadar.
Dengan malas aku membangunkan badan dari ranjang serta mengheret langkahku mendekati pintu dengan kesal.
“Siapa?” ucapku malas
“Ika, sudah magrib tidak baik tidur magrib – magrib.” Suara mak terdengar dari balik pintu.
Helaan napas berat ingin melepaskan segala sesak di dada, ternyata sudah magrib, batinku.
“Ya Mak, ini mau mandi,” ucapku senetral mungkin.
Langkah menjuahi kamarku terdengar dari luar pintu. Aku berjalan menuju meja rias, mengambil hp-ku untuk melihat waktu, ternyata benar sudah lewat pukul enam. Di luar juga sudah gelap.
Bergegas aku meraih sisir. Mengambil karet rambut untuk mengikat rambutku, tinggi di kepala sebelum masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri serta berwudhu.
***
Hari melelahkan belum juga meninggalkanku. Sehabis sholat magrib aku tidak bisa mengurung diri di kamar. Suara mak mengajak untuk makan malam terpaksa aku ikuti dengan berat hati.
“Ika, kenapa meninggalkan Arkan sendirian di ruang tamu tadi. Untung Mak Abah tidak lama di rumah Mak Long. Arkan sudah jauh-jauh datang, malah ditinggal sendiri sama tunangannya. Itu tidak sopan Ika.” Ucap Mak dengan nada seperti membela Bang Arkan.
Ingin meledak rasanya dadaku, tapi tidak mungkin aku menumpahkan kekesalanku kepada Mak. Selama ini aku selalu berusaha menyelesaikan masalahku. Tidak pernah bercerita perubahan Bang Arkan sejak 2 bulan ini. Bukan hanya tidak mengirim kabar tapi aku sering mendapatkan kiriman gambar serta chat mengancam dari nomor tidak dikenal bahkan kadang nomor hanya untuk sekali pakai.
Mengirim gambar Bang Arkan dengan perempuan lain di tempat – tempat yang tidak seharusnya. Screenshoot dari chat nomor Bang Arkan dengan nomor yang sengaja dikaburkan sehingga aku tidak bisa melacak nomor tersebut. Kata manis yang rasanya tidak pantas disebutkan kepada wanita lain tentu membuatku marah.
“Abah Mak. Ika hanya menunggu jawaban Bang Arkan tentang pertunangan kami. Ikutkan hati Ika, ika mau pertunangan ini diputuskan saja, berpijak pada dahan yang lemah rasanya hanya menyakitkan hati dan hidup Ika Mak.“ Hatiku rusak sampai ke akarnya mengucapkan kalimat ini kepada Abah Mak.
Aku tahu Abah Mak pasti akan kecewa, tapi aku sudah tidak tahan dengan kebisuan Bang Arkan. Sebagai lelaki aku mengharapkan Bang Arkan tidak menggantung begini hubungan kami.
“Ika, jangan mengeluarkan kata yang akan diaminkan malaikat. Putus tunang bukan hal biasa untuk kita orang Melayu. Pihak perempuan selalu disalahkan, Ika. Mak harap Ika bawa bertenang, jernihkan pikiran. Cepatlah tidur. Besok hari Sabtu, sekolah libur. Bawa berbincang masalah Ika dan Arkan. Mak yakin pasti ada jalan keluarga. Maklum orang bertunang banyak godaanya, Ika.” Ucap Mak panjang lebar.
Ucapan itu menambah sakit hatiku yang sudah terlanjur patah oleh sikap Bang Arkan tadi siang. Kebisuan Bang Arkan menambah rasa curigaku akan kabar yang aku terima akhir – akhir ini.
“Itu tergantung Bang Arkan, Mak. Kalau Ika tidak ada yang akan Ika katakan, entahlah jika Bang Arkan,” ucapku datar.
“Mak, sudahlah. Tidak usah menambah gundahnya Ika. Siang tadi Abah lihat Ika sudah cukup bersabar dengan Arkan. Mudah – mudahan tidak ada yang akan menghalang mereka sampai menuju pelamin.” Ucap Abah bijaksana.
Abah memang cinta pertamaku, walaupun aku tidak bercerita tapi aku tahu Abah diam – diam mengamati diriku. Sempat aku menyampaikan kepada Abah kalau Bang Arkan sulit untuk dihubungi beberapa pekan belakangan ini.
Melihat wajah Abah yang berubah kala aku mengatakan itu membuatku tidak mau lagi terlepas cakap dengan Abah. Bagaimanapun aku tidak mau membuat kedua orangtuaku merasa khawatir dengan diriku.
Aku pamit kepada Abah Mak untuk mengistirahatkan tubuh dan jiwaku yang lelah setelah sebentar tadi kami sempat duduk di ruang tengah rumah selepas makan malam.
Aku menatap langit kamar. Tidak habis pikir. Tidak ada kabar langsung dari Bang Arkan setelah tadi siang aku tinggalkan sendiri di ruang tamu.
Aku masih berharap Bang Arkan menjelaskan bahwa kabar yang sampai ke teligaku itu hanya isapan jempol belaka, hanya fitnah. Tapi sampai menjelang pukul 11 malam aku tidak mendapatkan kabar dari Bang Arkan.
Menyesasl aku menchat Bang Arkan seperti keinginan Mak, ternyata hanya aku yang berusaha berdamai dengan situasi kami ini.
***
(Bersambung)


