
Dengan riang aku melangkahkan kaki menuju gojek yang aku pesan. Tujuanku pastinya anjungan tunai mandiri untuk mengambil dana pelunas hutang serta perbaikan kendaraanku yang sudah dikirim oleh pemilik bengkel.
Aku menggenggam uang yang baru saja aku ambil, menyimpannya sebaik mungkin. Mengambil lebih sedikit untuk keperluan dapurku.
***
“Aya, Abang dapat bonus. Sudah Abang transfer. Izinkan Abang mengambil lima ratus ribu untuk kebutuhan Abang. Sisanya buat Rohaya merehab dapur, dan keperluan rumah kita. Aya, Abang rindu. Mudah – mudahan dalam waktu dekat Abang bisa pulang. Rindu selalu.” Aku membaca chat Bang Khalid, suamiku.
“Kenapa tidak menelepon?” Balasan chat aku kirim ke Bang Khalid.
Teleponku berdering. Tertera tulisan suami tercinta. Senyumku mengembang sambil bergegas menekan tombol hijau untuk menerima panggilan suamiku.
“Lihat log panggilan sudah berapa kali Abang telepon. Tidak rindu dengan Abang? cChat bilang sudah transfer langsung dibalas?” Lucu melihat wajah merajuk Bang Khalid dari panggilan video kami.
“Maaf, tadi HP Aya dicas, terus berberes-beres rumah, Abang sayang,” ucapku lembut menampilkan senyum termanis untuk Bang Khalid.
Rinduku bertambah setelah melihat wajah Bang Khalid. Senyum segaris khas Bang Khalid dengan rahang keras terkesan dingin bagi yang baru mengenalnya, tapi sungguh aku jatuh hati dengan penampilan dinginnya.
Selama kami berumah tangga tidak pernah mendengar keluhannya kepadaku. Syukurku bertambah. Meski masuk jalan ke 5 pernikahan kami dan belum juga dikarunia buah hati tapi Bang Khalid masih setia dengan janjinya, hanya mencintaiku seorang.
“Melamun lagi, mikirin siapa? Jangan sampai Abang mendengar gibahan yang menyesakkan dada menyakitkan telinga.” Meninggi seoktaf suara Bang Khalid di seberang sana.
“Terpikir, kapan Abang pulang? Sudah hampir 3 bulan belum menyempatkan pulang, atau Jumat sore nanti Aya yang ke Batam?” Ucapku lembut.
Wajah Bang Khalid terlihat cemas ketika mendengar ucapanku. Keningku sampai berkerut melihat reaksi Bang Khalid.
“Abang usahakan untuk pulang. Angin lagi tidak bagus. Jangan buat abang cemas. Biar abang saja yang mengusahakan untuk pulang,” ucap Bang Khalid cepat.
Semakin curiga melihat tingkah Bang Khalid yang tidak biasanya, walaupun aku akui sejak bekerja di Batam hanya sekali aku datang mengunjunginya. Cuaca memang lagi ekstrim. Apalagi kami di perbatasan selat Malaka membuat angin tidak dapat diprediksi. Hal ini yang membuat Bang Khalid cemas jika aku harus berangkat sendiri ke Batam.
Aku tidak mau Bang Khalid membaca rasa curigaku. Senyum yang aku paksakan terpaksa terpampang di wajahku.
“Tidak Ikhlas sekali senyumnya, mana senyum yang selalu membuat Abang rindu?” Rayu Bang Khalid.
Sungguh ada rasa curiga tapi aku berusaha menepisnya. Dalam pernikahan harus saling percaya apalagi kami yang harus terpisah pulau sungguh itu tidak mudah. Percakapan kami tuntas ketika jam menunjukkan angka 10. Sudah malam, kata saya di hati.
Menepis rindu yang menyeruak dalam, helaan napas terkeluar dengan sendiri. Menarik selimut untuk mengusir malam yang sudah mulai disirami rintik hujan. Semoga hanya gerimis kecil bukan hujan lebat yang membuat atap dapur yang belum diperbaiki menumpahkan banjir di dapur milikku.
Terlalu lelah berkecamuk dengan semua masalah, akhirnya aku tertidur. Terbangun ketika suara azan subuh sayup – sayup terdengar.
Ah berarti hujan hanya sebentar, ada perasaan lega. Hari ini aku akan mencari orang untuk perbaiki atap dapur yang bocor. Rasa gembiraku berganti sedih mengingat Bang Khalid tidak mau aku datang mengunjunginya. Rasa kecewa membuatku membuang napas dengan kasar sebelum mengambil handuk untuk mandi sebelum menghadap Sang Pemilik Kehidapan.
***
Pagi jumat ini tidak membuatku bahagia. Ada rasa yang mengiris hatiku. Rinduku ditolak Bang Khalid untuk bertemu. Akhir pekan berakhir dengan kesendirian. Kadang ada rasa iri melihat rumah tangga orang yang selalu bersama. Ketidadaan buah hati juga membuat rumah tangga kami sepi. Jika kami sudah memiliki anak tentu aku bisa mengusir rasa sepi serta memeluk anakku jika merindukan ayahnya.
Hariku hancur dengan sempurna ketika salah satu anak didikku tersandung kasus narkoba. Terlihat alim ternyata menyimpan bom yang membuat kami para pendidik bergidik ngeri.
Aku menghempaskan tubuhku ke atas ranjang setelah membersihkan diri. Aku membiarkan rumah tidak tersentuh sapu. Sampai di rumah aku langsung membersihkan diri ingin melepas semua lelah hati dan badan.
Aku menatap langit kamar. Rindu ini menyiksaku. Ingin rasanya aku menyusul Bang Khalid tapi aku takut malah memicu pertengkaran karena tidak mendengarkan perintahnya untuk tidak datang mengunjunginya. Hmm.
Helaan napas berat tidak membuat hatiku menjadi lega, malah menambah sesak dada.
Melirik jam dinding. Kapal terakhir masih setengah jam. Aku berperang dengan hati dan pikiranku. Ada apa Bang Khalid melarangku untuk menemuninya? Apakah hanya alasan cuaca yang lagi ekstrim atau alasan lain? Berkecamuk pertanyaan itu di dadaku.
Prank, aku terusik dengan suara benda jatuh dari luar kamarku. Aku bergidik ngeri, sepertinya ketika aku pulang tadi rumah tidak dalam keadaan terkunci. Kebiasaan untuk melihat dapur hari ini terlupakan. Aku merapatkan telinga pada pintu kamar. Sunyi atau pendengaranku yang salah?
Prank, sekali lagi aku mendengar suara benda jatuh dari luar kamarku. Walaupun masih siang tapi perumahan kami sepi. Pukul 5 sore baru ramai dengan tetangga yang pulang kerja.
Rasa takutku timbul, jangan sampai ada maling yang masuk rumah. Betapa cerobohnya aku tidak memeriksa kondisi rumah. Lelah pikiran dan badan membuatku alpa dengan keselamatanku.
Aku memandang sekeliling kamar mencari alat atau apa yang bisa aku pergunakan untuk membela diri.
Untung Bang Khalid selalu meletakkan kayu yang mirip pemukul bola di bawah ranjang. Untuk jaga – jaga kata, Bang Khalid.
Aku berjalan menuju ranjang membungkukkan badan meraih kayu di bawah ranjang.
Tanganku gemetaran ketika menekan panel pintu kamar. Merapal doa, semoga aku diberikan kekuatan untuk menghadapi apapun yang sekarang berada di luar kamarku.
Kepalaku menyembul keluar pintu kamar, menoleh ke kanan dan kiri menelisik apakah ada penampakan. Merasa aman aku melangkah keluar. Tanganku menggenggam pentungan kayu dengan gemetar, segemetar langkahku menuju sumber suara arah dapur.
Hatiku berdegup kencang semakin mendekati dapur. Mataku lebih waspada, jangan sampai aku lengah.
Mataku membola ketika melihat penampakan Bang Khalid yang berdiri tegak sambil memegang kue tart dan senyum yang meruntuhkan segala ketakutan yang tadi menyerangku mendadak.
“Abang menakutkan Aya saja.” Ucapku dengan perasaan lega
“Selamat hari pernikahan. Sengaja,” ucap Bang Khalid usil.
Sudut mataku berair melihat hidangan yang sudah tersedia di meja makan kami. Semua makanan kesukaanku, sop ayam, tahu tempe bacem, sambal belacan tidak lupa dengan kerupuk ikan Moro. Bibirku mencebik menatap semuanya. Hatiku berbunga.
“Ada satu lagi berita Bahagia untuk Aya,” ucap Bang Khalid.
“Abang naik gaji?” tebakku spontan
“Mata duitan ternyata istri Abang ni.” Usil Bang Khalid.
Sekali lagi aku mencebikkan bibirku sambil mengayun langkah mendekat ke Bang Khalid meraih tangannya untuk aku cium bangga.
“Selamat hari pernikahan, doa istri solehah terkabulkan. Mulai Senin besok Abang akan pindah kerja di Karimun,” ucap Bang Khalid mantap. Aku terkejut seolah tak percaya. Sungguh ini berita yang paling membahagiakanku. Serasa ada yang bernari – nari di kepalaku rasa gelap menyerangku.
***
Aroma minyak kayu putih menusuk penciumanku. Perlahan aku membuka mata. Mimpikah aku karena terlalu memikirkan Bang Khalid, rasanya aku belum tidur setelah membersihkan diri sepulang dari sekolah. Aku menatap atap langit kamarku, mataku mencari keberadaan Bang Khalid. Tidak ada ternyata aku hanya berilusi, tapi aroma minyak kayu putih ini nyata siapa yang memberikannya sementara aku sendirian di rumah.
Aku memandang nanar pintu kamarku. Serindu itukah aku kepada suamiku sampai berilusi masih berharap pintu kamar terbuka dan sosok Bang Khalid ada di sana?
Helaan napas tidak dapat aku hindari. Mencoba membangunkan badan yang terasa berat. Aku tersentak ketika pintu terbuka dan mataku membulat melihat Bang Khalid tersenyum manis kepadaku.
“Abang, sungguh abang ada di rumah?” tanyaku tidak percaya.
Sosok itu terus berjalan mendekat. Aku jadi merinding. Benarkah ini suamiku atau hanya ilusi semata? Aku cepat – cepat membaca ayat kursi untuk mengusir mahkluk kasat mata menyertai azan magrib juga berkumandang. Semakin mendekat semakin aku membaca ayat kursi berulang – ulang tapi mahkluk itu semakin mendekat membuatku semakin merinding.
“Aya jangan buat Abang cemas, ada apa?” Suara itu nyata milik Bang Khalid.
”Bawa istgifar, Aya. Jangan sampai Aya dan anak kita kenapa – napa.” Suara Bang Khalid terdengar lagi.
Kalimat anak kita membuatku bigung, menatap lekat wajah Bang Khalid.
“Aya ini Abang, ternyata kejutan Abang benar – benar membuat Aya terkejut, maaf.” Suara Bang Khalid lembut.
“Tadi Aya sempat pingsan. Terlalu banyak pikiran, kata Bu Ratna dan dalam kondisi hamil muda. Sudah 2 bulan usia kehamilan.” Jelas Bang Khalid.
Bu Ratna, dokter kandungan tetangga depan rumahku. Aku menatap Bang Khalid lekat, masih tak percaya.
Aku meraba perutku yang masih datar, air bening meluncur sempurna di pipiku. Isak kecilku mulai terdengar.
“Sudah, kenapa menangis? Bukannya ini kabar yang sudah lama kita tunggu?” Usapan di kepalaku terasa menenangkan jiwaku yang beberapa hari ini terasa sepi.
“Maaf, ini air mata bahagia. Double bahagianya Rohaya. Terima kasih, Bang,” ucapku lembut.
“Maaf juga mungkin karena Abang terlalu keras melarang Aya ke Batam, padahal Abang sudah menyiapkan kejutan tapi tidak tahu cara yang jitu untuk melarang Aya ke Batam. Pasti fikir yang macam – macam sampai Aya pingsan.” Lagi – lagi ucapan Bang Khalid menyentuh hatiku.
Bibirku mencebik tapi hatiku terasa lapang. Semua beban seakan menguap entah kemana. Hari penghujung Jumat yang berkah, yang kami nanti akhirnya datang bersamaan dengan pindah tugasnya suamiku. Terima kasih, Ya Allah.***


