Gemini_Generated_Image_t3zpmat3zpmat3zp
32 Views

Lelah membuat tidurku tidak nyenyak. Bukan segar setelah bangun tidur malah kepalaku sakit seperti dipukul godam besar. Sambil memegang kepala aku tertatih menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu. Semoga dengan mempasrahkan masalah ini kepada-Nya semua akan baik – baik saja. Itu harapanku.

Setelah sholat subuh aku tidak langsung keluar dari kamar. Aku membaringkan badanku, berharap dengan tidur sebentar sakit kepalaku akan mereda atau hilang sama sekali.

Ketukan pintu membuatku membuka mata yang  sempat melayari alam mimpi. Memandangi jam dinding 30 menit aku melayari dunia alam bawah sadarku, ternyata. Membangunkan badan dari tempat tidurku. Kepalaku tidak sesakit tadi, alhamdulillah tidur sebentarku ada manfaatnya.

Aku berjalan menuju pintu kamar, menekan pegangan pintu untuk membuka pintu kamarku. Wajah Mak terpampang jelas di depanku.

“Ada Arkan di ruang tamu,” ucap Mak

Kepalaku mendadak terasa sakit lagi mendengar nama Bang Arkan yang Mak sebut. Senyum kecut aku berikan kepada Mak.

“Anak gadis baru bangun, sana cepat. Jangan biarkan Arkan menunggu terlalu lama,” ucap Mak menyelekit.

Aku menutup pintu kamar, mengikuti perintah Mak, walaupun enggan sebenarnya. Aku tidak mau menambah masalah dengan berlama – lama di dalam kamar.

Langkah biasa menuju ruang tamu, biasanya aku akan bergegas menuju ruang tamu jika Bang Arkan yang datang.

“Asalamualaikum,” ucapku. Mengucapkan salam untuk mengalihkan perhatian Bang Arkan dari melihat hp-nya sambil tersenyum.

Salamku membuat Bang Arkan terkejut. Jelas sekali ada yang disembunyikan Bang Arkan. Hp-nya secepat kilat disembunyikan ke dalam saku celananya, seakan takut aku mengambil hp-nya. Aku tersenyum kecil melihat gelagat Bang Arkan seperti maling ketangkap di siang hari.

Aku tersenyum kecil melihat gelagat Bang Arkan seperti maling begitu.

Waktu terus berlari. Untuk hari ini aku tidak akan lari dari masalah yang kami hadapi. Sampai kapan Bang Arkan berdiam diri maka akupun akan berdiam diri juga.

Aku menatap lantai. Sesekali aku mengangkat kepala untuk melihat Bang Arkan yang menatapku lekat. Helaan napas terdengar berat. Kami sama – sama menghela napas untuk meringankan beban yang di dada kami. Tapi aku bisa menyakinkan bahwa pikiran kami tidak sama.

Aku melirik jam yang ada di hp-ku yang sengaja aku letakkan di pangkuanku. Pas satu jam belum ada tanda – tanda Bang Arkan akan membuka percakapan. Tenggorokan sudah haus. Lebih baik menunggu sambil minum, batinku. Aku berdiri tapi belum lagi aku melangkah, “Mau kemana? Lari lagi?” tanyanya ketus.

Tiba-tiba terdengar  suara Bang Arkan. Alisku seakan bertaut mendengar suaranya itu.

“Ika hanya ingin mengambil air, haus. Abang pasti butuh waktu lama untuk menjelaskan. Ika tidak mau mati kehausan menunggu Abang bicara,” ucapku datar.

Melenggang meninggalkan Bang Arkan dengan wajah pias mendengar ucapanku. Aku kembali ke ruang tamu dengan membawa mug besar berisi air hangat yang selalu menjadi minumanku. Sudah hampir setahun ini aku membiasakan diri minum air hangat.  Ke sekolah pun aku membawa 2 termos berukuran 1 liter berisi air panas.

“Air untuk Abang mana?” Bang Arkan bertanya ketika aku menduduki sofa di depannya yang berbatas meja tamu.

“Maaf, Ika pikir Abang tidah haus karena dari tadi baru hanya kalimat  mau kemana, lari lagi. Abang bukan tamu yang harus Ika suguhi minuman, atau Abang merasa tamu di rumah tunangan Abang. Oh, maaf kita belum muhrim jadi Abang tamu di rumah orang tua Ika. Maaf Abang mau minum apa? Teh, kopi, sirup atau air putih dingin untuk menghilangkan rasa yang tidak nyaman di dada Abang?” Aku santai saja menyerocos sambil tersenyum sinis.

Hening, aku tahu hati Bang Arkan marah mendengar kata – kataku. Memang itu yang aku inginkan, biar terpancing emosinya dan membandingkan aku dengan entah siapa tapi perasaanku mengatakan ada wanita lain selain aku.

Helaan napas berat terdengar dari Bang Arkan. Hanya sepintas aku menatap Bang Arkan. Aku lebih memilih membuang muka melihat lantai lebih menarik dari pada melihat wajah Bang Arkan.

“Ika, kenapa hubungan kita jadi seperti ini?” Bang Arkan memulai pembicaraan.

“Seperti apa hubungan kita? Ika merasa hubunganku baik – baik saja sampai Abang melanggar janji Abang sendiri. Ika menunggu jawaban Abang untuk hubungan kita ini seperti apa sebenarnya?” Aku tersenyum tipis.

Tatapan kami bertabrakan. Aku melihat kegelisahan yang mendalam di wajah Bang Arkan mendengar kalimatku.

Sekali lagi aku memutus pandangan kami. Hatiku sakit melihat keraguan di wajah Bang Arkan. Sungguh ingin rasanya aku mencakar wajahnya bahkan melempar mug yang berisi air hangat ini ke mukanya.

“Maaf.” Suara Bang Arkan seperti berbisik

“Maaf, Abang salah apa? Jangan katakan Abang berbuat salah dan Ika harus menanggung salah yang Abang perbuat dengan kata maaf. Tidak  semua masalah bisa selesai dengan kata maaf, Bang.” Keningku seperti bertaut mendengar kalimat Bang Arkan meminta maaf.

Hening menyelinap lagi diantara kami, sampai aku angkat bicara.

“Jika mau memutuskan hubungan antara kita sebaiknya sekarang. Jangan menunggu kita sudah dalam ikatan pernikahan. Itu akan lebih menyakitkan, Bang,” ucapku ketus.

Wajah Bang Arkan semakin pias mendengar ucapanku. Berkali – kali aku melihat Bang Arkan mengusap wajahnya kasar.

“Orang, itu dipegang kata-katanya. Janjinya. Jadilah lelaki yang bisa dipegang janjinya, Bang. Kebahagiaan yang Abang janjikan jika tidak bisa Abang wujudkan lepaskan saja Ika, biarkan Ika bahagia walaupun tidak bersama Abang. Ika akan berusaha ikhlas. Kita hidup bukan untuk kebahagiaan orang lain. Jadi, tidak perlu takut untuk menentukan sikap. Keputusan Abang akan Ika terima dengan lapang dada. Berarti kita tidak berjodoh. Anggap Ika menjaga jodoh orang lain,” kataku datar.

Rasanya lepas sudah beban yang memendam dadaku. Sudah bulat putusanku jika Bang Arkan tidak memilih diriku. Aku Ikhlas.

Lagi – lagi keheningan menyelimuti kami. Kami dengan pikiran masing – masing. Yang pasti aku sudah meluahkan semua yang mengganjal dan membebani hatiku, lega rasanya.

“Ika, Abang takut Ika sudah mendapatkan gambar serta chat seakan Abang dekat dengan wanita lain di Batam, tapi Abang berani bersumpah. Itu tidak benar. Maafkan, Abang terpaksa mengucapkan sumpah walaupun Abang tahu Ika tidak suka Abang mengucapkan sumpah tapi tidak ada kalimat yang bisa meyakinkan Ika jika Abang tidak bersumpah,” ucap Bang Arkan memelas.

Bimbang melanda hatiku. Aku melihat kejujuran di mata Bang Arkan. Kami sudah komitmen untuk tidak bersumpah dengan nama Sang Pencipta karena tidak mau dimakan sumpah. Tapi hari ini jika Bang Arkan berani bersumpah, bersumpah dengan menyebut nama Allah aku yakin ada yang terjadi sehingga Bang Arkan tidak mau mengecewakanku sebagai tunangannya.

“Ika lebih kecewa dengan kebisuan Abang. Lebih baik bercerita dan kita mencari solusinya. Daripada Ika dalam keabu – abuan, malah membuat kita saling curiga. Bang, itu tidak baik untuk sebuah hubungan.”

“Abang akan bercerita tapi Abang tidak mau di sela, bisa?” Bang Arkan seperti serius.

“Insyallah, Zulaika Binti Imran akan menjadi pendegar yang baik. Sebelum Abang mengizinkan Ika bicara Ika akan diam,” ucapku berani.

Helaan napas berat terdengar sebelum Bang Arkan memulai ceritanya.

“Ini terjadi sekitar 2,5 bulan lalu. Ada karyawan baru di kantor Abang, Intan namanya. Kami menjadi tim kerja. Abang sudah mengatakan kalau Abang sudah punya tunangan dan akan segera menikah. Awalnya komunikasi kami baik-baik saja. Tapi setengah bulan berjalan Intan mulai bertingkah aneh. Selalu mencari kesempatan untuk memamerkan kebersamaan yang dibuat olehnya dengan memposting gambar yang entah bagaimana caranya membuat seperti gambar itu kami terlihat mesra.”

“Sepekan lalu Abang mengetahui tak sengaja, ketika teman kantor bertanya kapan kami menikah. Tentu Abang terkejut. Abang menggali informasi dan hasilnya sungguh membuat Abang bingung. Selama ini tidak pernah Abang memberikan harapan. Sepertinya Intan terobsesi dengan Abang. Selama dua bulan ini beberapa kali HP disabotasenya. Abang marah besar. Masalah kami sampai ke telinga bos, tempat Abang bekerja. Untung saja selama bekerja Abang tidak mempunyai catatan buruk. Dan lebih untung lagi ada teman yang berbaik hati memberikan catatan buruk Intan di tempat kerjanya yang lalu. Intan suka menjadi perusak hubungan orang. Di tempat kerjanya yang lalu Intan menjadi orang ketiga dengan mantan bosnya. Dua pekan lalu merupakan masa – masa terberat Abang untuk memberikan bukti bahwa Abang tidak mempunyai hubungan dengan Intan. Intan menggunakan gambar – gambar itu untuk  dikirimnya ke Ika untuk menjatuhkan Abang di kantor. Alhamdulillah mungkin berkat doa calon istri Abang akhirnya masalah selesai, dan Abang dipromosikan untuk kantor cabang di Karimun.”

Helaan napas lega ketika Bang Arkan menyudahi bicaranya yang begitu panjang. Saya serius menyimak pidatonya yang begitu panjang.

Jujur, sungguh dadaku berdegup kencang ketika mendengarkan cerita Bang Arkan. Ternyata masih ada wanita yang mau menyakiti hati wanita lain hanya untuk mendapatkan kemewahan secara mudah. Nauzubillah, rasa berat yang menyesakkan dada rasanya menguap ke angksa. Aku yang tadi tegang sekarang bisa tenang. Ya Allah benar – benar ujian bagi orang yang bertunang, untuk Bang Arkan mampu menahan godaan jika tidak entahlah aku tidak tahu apa nasib hubungan kami.

Aku memilih Bang Arkan menceritakan semua masalah yang menyangkut hubungan kami, sementara Bang Arkan lebih memilih untuk memecahkannya sendiri. Untung saja masalah ini bisa terpecahkan dengan baik, jika sampai menimbulkan perpecahan mungkin lain ceritanya.

Kedepannya kami harus lebih menyamakan persepsi untuk memecahkan masalah jangan sampai ada detak yang tidak seirama yang membuat sumbang malah menambah masalah.

Hari ini Bang Arkan berjanji untuk tidak lagi menyembunyinya masalah apapun, sedangkan aku sudah dari dulu berkomitmen apapun masalah akan aku cerita sedari dini apapun resikonya harus kami hadapi bersama.

Notifikasi dari hp Bang Arkan membuat kami serempak menoleh ke hp yang tergeletak manis di meja tamu. Mataku membulat sempurna melihat nama yang tertera di layar hp Bang Arkan. Nama Intan terpampang jelas. Bang Arkan langsung mengeser tombo menerima dan loudspeaker hp-nya.

“halo Arkan, benar Arkan dipromosikan dan pulang kampung. Arkan jahat meninggalkan Intan terus bagaimana dengan Intan, Arkan.” Gigiku mengermetuk mendengarkan suara Intan.

Tidak tahu malu, baru sekarang aku melihat Perempuan yang tidak tahu malu.

“Intan jaga bicara yang tidak masuk akal, jangan sampai membuat asumsi salah untuk orang yang mendengarkan perkataan Intan. Kita tidak ada hubungan Intan.” Intonasi tidak sedap terdengar dari suara Bang Arkan.

“Arkan sekarang lagi sama tunangan Arkan ya, mana Intan ingin bicara dengan tunangan Arkan. Yang pantar bersanding dengan Arkan itu Intan, bukan guru sekolah yang tidak bisa mengimbangi seorang kepala cabang.” Hatiku langsung mendidih mendengar perkataan Intan.

Ya Allah, ternyata masih ada manusia yang merendahkan orang lain. Sebegitu rendahnyakah profesiku sebagai guru, batinku.

Wajah Bang Arkan langsung berubah mendengar apa yang diucapkan Intan. Rahangnya menggeretak, geram. Tangan kirinya mengepal kencang.

“Intan, jaga bicaramu. Aku lebih memilih seorang guru menjadi istriku. Apalagi Ika tunanganku. Bisa menjadi Ibu yang baik untuk anak – anak kami, nanti. Aku tidak ingin memilih yang lain selain Ika. Apalagi perempuan yang tidak bisa menjadi Ibu yang baik untuk anak – anakku, kelak.” Sarkas Bang Arkan.

“Apa maksud Bang Arkan bicara begitu? Intan lebih baik dari tunangan Abang. Intan bisa pastikan itu.” Suara melengking Intan terdengar dari seberang sana.

“Yang menilai kita baik, bukan kita tapi orang yang keseharianya bergaul dengan kita, Intan. Ika tunangan Abang lebih baik 1000x dari semua perempuan yang Abang kenal. Jadi tidak ada yang bisa menggantikan posisi Ika di hati Abang.” Ucapan Bang Arkan membuatku tersipu malu.

Senyum manis dilemparkan Bang Arkan kepadaku setelah mengucapkan kalimat yang membuatku melayang tinggi.

“Bang Arkan sudah dibutakan oleh tunangan Abang, mana Perempuan yang bisa pisah lama tidak selingkun, begitu juga dengan tunangan Abang. jangan cakap Intan tidak mengingatkan Abang.” lagi – lagi Intan mencoba memprovokasi Bang Arkan.

“Baru kali ini Abang melihat ada Perempuan yang menjatukan harga diri perempuan lain, sungguh saya baru pertama kali melihat penjelmaan setan dalam diri Perempuan yang mengaku berakhlak baik.” Dor, aku percaya perkataan Bang Arkan tepat sasaran.

“Bang Arkan jahat.” Isak terdengar dari Seberang telepon.

Telepon dimatikan sepihak dari Intan, helaan napas serentak kami keluarkan, aku merasa lega mendengar pembelaan Bang Arkan. Sementara helaan napas Bang Arkan aku tidak tahu apa maksudnya.

“Ika maaf, Abang tidak pernah memberikan harapan kepada manapun perempuan di luar sana. Abang selalu menjaga pergaulan dan hati Abang. Ika, rumah Abang selalu menjadi rumah tempat Abang Kembali,” ucap Bang Arkan lirih.

Raut wajah Bang Arkan jauh dari kata baik. Kecemasan tersembul dari manik matanya. Sungguh aku tidak melihat celah untuk membuatku ragu. Tapi ucapan Intan membuatku cemas. Pantaskah aku mendampingi seorang kepala cabang yang selalu menemui orang dan perlu pendamping? Sementara tugasku sebagai guru tidak memungkinkan aku selalu mendampingi Bang Arkan ke depannya. Aku tidak akan sanggup melanggar kata hatiku untuk menjadi pendidik yang profesional, tentunya.

“Bang, berjanjilah dengan Ika ke depannya tidak akan mempermasalahkan profesi Ika. Apalagi membandingkannya dengan profesi lain. Ika berhadapan dengan manusia yang tidak bisa Ika tinggalkan sementara kehadiran Ika dibutuhkan di dalam kelas dengan waktu yang sudah ditentukan. Jangan paksa Ika untuk memilih meninggalkan tugas Ika.” Aku memohon kepada Bang Arkan.

Aku menatap Bang Arkan dengan lekat untuk melihat reaksinya atas permintaanku itu.

“Ika kita akan menjadi pasangan yang saling mendukung. Jika abang lupa ingatkan Abang. Bukan patuh pada perintah Abang yang akan mengusik ketenangan hati Ika. Abang bangga dengan profesi Ika. Anak – anak kita akan beruntung memiliki guru di rumah, tidak hanya di sekolah. Insyaallah Abang juga akan mengingatkan Ika untuk tidak menyia–nyiakan manusia yang butuh motivasi Ika untuk menjadi orang sukses.” Ucap Bang Arkan yakin.

Ya Allah aku tidak melihat dan mendengar keraguan dari wajah serta suara Bang Arkan. Senyumku mengembang diantara deras airmata kesyukuran diberikan belahan jiwa yang mengerti akan profesiku.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *