CC
49 Views

Tubuhku limbung melihat pemandangan di depanku, suami memeluk perempuan yang lagi hamil. Rintihan keluar dari mulut pemilik perut buncit itu. Tampak suamiku panik, berusaha menenangkan perempuan yang terlihat lemah dalam kedekapannya saat ini.

Kakiku tidak bisa menompang diriku, perlahan aku luruh di lantai rumah sakit. Sudah sepekan ini aku merasakan badanku tidak dalam keadaan baik – baik saja. Berusaha membicarakannya dengan suamiku untuk memintanya menemaniku ke rumah sakit, tapi sialnya suamiku terlihat sibuk sehingga aku tidak bisa menceritakan keluhanku ini kepadanya.

Akhirnya aku memutuskan untuk  ke rumah sakit sendirian, setelah tadi meminta salah satu teman sejawatku yang kosong jam mengajarnya untuk mengantarku ke rumah sakit daerah yang berada di kabupaten kami.

Setelah mengantarku teman sejawatku pulang dengan janji jika aku sudah siap diperiksa aku menelepon dirinya untuk mengantarku pulang.

Ah rasanya aku selalu dikelilingi orang – orang yang baik sehingga hidupku terasa nyaman, tapi pemandangan ini membuatku hancur lebur.

***

Aroma menyengat menusuk hidungku, perlahan aku membuka mataku pandangan dinding putih jelas terlihat senyum kecutku menusuk hati.

Aku kehilangan kesadaran tidak sanggup melihat suamiku mendekap perempuan lain yang mengandung.

Pernikahan kami berjalan 3 tahun tapi rumah tangga kami sepi dari suara – suara lucu dari anak kecil, tidak ada keluhan dari kedua belah pihak keluarga.

Suamiku malah menjadi penyemangat no 1 jika ada yang mengusik ketenaganganku tentang kehadiran anak yang belum ada pada pernikahan kami.

Apakah semua itu hanya sandiwara untuk menyenangkan hatiku saja.

Pintu kamar rawat inapku terbuka dari luar, nampak sosok wanita berseragam masuk sambil melempar senyum kepadaku.

“Sudah bangun Bu, maaf pihak rumah sakit tadi menggunakan hp Ibu untuk menghubungi keluarga Ibu tapi nomor dengan nama suami tidak menjawab, tapi tenang saja kami sudah bisa menghubungi Abah ibu mungkin Sekarang dalam perjalanan.” Panjang lebar dokter itu menjelaskan.

“Terima Kasih.” Ucapku sambil melempar senyum yang dipaksakan.

“Selamat ya Bu, jaga baik – baik kehamilannya. Tidak perlu cemas kehamilan pada bulan – bulan pertama memang berat, jangan stress makan  makanan bergizi untuk calon bayinya. Saya permisi dulu, jika Ibu merasa tidak enak tekan bel di atas kepala Ibu.” Ucapnya sambil berlalu meninggalkan kamar rawat inapku.

“Ya Allah, Indah kenapa sampai begini, mana Dahlan?” Suara Mak cempreng masuk kedalam kamarku ditemani Abah yang hanya menatapku iba.

“Pihak rumah hanya bisa menghubungi no Abah, mungkin Bang Dahlan sibuk banyak pekerjaan. Maaf membuat Abah Mak khawatir, kata dokter Indah hanya kelelahan.” Ucapku datar.

“Sakit apa, kenapa sampai di rawat?” ucapnya lembut.

Hatiku bimbang ingin yang pertama mendengarkan berita kehamilanku adalah Bang Dahlan tapi Sekarang Bang Dahlan sedang menimang anaknya dari wanita yang tadi dalam dekapannya.

“Indah hamil kata dokter sudah 10 minggu Mak.” Ucapku lirih.

“Ya Allah, kenapa begitu ekspresinya seharusnya Indah bahagia kalian sudah hampir 3 tahun menunggunya. Pasti Dahlan senang mendengarnya, Abah telepon Dahlan.” Ucapnya gembira.

“Jangan Bah, jangan ganggu kerja Bang Dahlan. Abah Mak kata dokter setelah infus ini habis Indah boleh pulang. Izinkan Indah balik ke rumah Abah, tapi Indah sudah izin dari sekolah. Sebentar Indah telepon Kawan Indah yang mengantar Indah ke rumah sakit, bilang Indah pulang sama Abah Mak.” Ucapku mengalihkan perhatian Mak.

“Sudah Mak, jangan suka memaksa kita ikuti saja kemauan Indah. Ingat ibu hamil tidak boleh stress.” Ucap Abah tenang.

***

Saat ini kami sudah berada dalam maxim yang dipesan Abah, aku dan Mak naik Maxim sementara Abah mengendarai roda dua yang membawa Abah Mak ke rumah sakit.

Pikiranku masih tertinggal di rumah sakit, masihkan Bang Dahlan berada di rumah sakit, untung saja Abah Mak tidak mengetahui keberadaan Bang Dahlan jika tidak aku tidak tahu apa yang terjadi pasti Bang Dahlan dihajar habis oleh Abah.

“Ingat Dahlan jika tidak lagi bisa menjaga Indah kembalikan kepada Abah.” Itu ucapan Abah ketika Bang Dahlan selesaikan mengucapkan ijab atas namaku sewaktu kami menyembah Mertua dari Abah.

Aku meneteskan air mata mendengar ucapan Abah kala itu.

“Indah dari tadi Mak lihat Indah asyik melamun, ada masalah dalam rumah tangga kalian.” Ucap Mak sambil mengusap pundakku memberikan rasa aman yang aku butuhkan saat ini. Aku mengelengkan kepala dan meletakkan kepalaku pada dada Mak mencari rasa hangat yang aku butuhkan.

Hanya 20 menit maxim sudah sampai di rumah Abah, Abah sudah sampai terlebih dahulu tersenyum melihat aku dan Mak turun dari maxim.

Mak menuntunku pelan seolah aku porselen yang gampang pecah.

“Pelan melangkahnya jangan cepat – cepat, ingat Indah sekarang berdua.” Cerewet Mak timbul.

Mak menuntunku menuju kamar gadisku yang terawat rapi oleh Mak, Aku hanya berdua kakak adik. Abangku sudah menikah dan punya 3 anak yang semuanya jagoan sekarang berada di batam.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *